Home Featured Mengarungi Lembah Baliem
7

Mengarungi Lembah Baliem

26
7
Suasana pedesaan mulai menyapa dan menemani perjalanan saat menuju Asotipo dari pusat kota Wamena. Foto: Prana Sunaryo.

Sulit untuk tidak berdecak kagum jika Anda berkunjung ke Lembah Baliem di dataran Papua. Ia seperti medan magnet yang mengundang siapa saja untuk datang dan menjelajahinya. Dan itulah yang saya rasakan. Bersama istri di akhir pekan yang cerah, saya mengarungi sebagian lembah indah ini dengan dua sepeda.

Mengingat medan berat yang akan kami tempuh, maka sebelumnya saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Diantaranya adalah makan pagi dan meregangkan otot-otot agar stamina tubuh tetap fit. Tak lupa saya juga menyiapkan biskuit, air minum, sampai cadangan ban dalam dengan pompa ban mungil serta tool kit.

Perjalanan dimulai pukul 09.00 WIT. Kami memulainya dari Kota Wamena, ibukota Kabupaten Jayawijaya yang terletak di Wilayah Pegunungan Tengah, Papua. Kota ini terletak sekitar 1500 meter dari permukaan laut (mdpl) dan hanya dapat dicapai dengan moda transportasi udara. Posisinya seolah menunjukkan ia terletak di jantung Papua. Tak aneh jika muncul anggapan bahwa Anda belum ke Papua jika belum menginjakkan kaki di Wamena.

Melewati medan off-road. Foto: Dokumentasi Prana Sunaryo.

Saat itu hari sungguh cerah dan suhu udara berkisar di angka 22 derajat celcius. Dan kami yakin penjelajahan di akhir pekan ini akan terasa sangat menyegarkan dan membebaskan. Hanya saja, sengatan matahari perlu diantisipasi dengan menggunakan baju lengan panjang dan topi atau helm sepeda dengan sun-visor. Ini untuk menjaga agar kulit tidak perih atau terbakar.

Tujuan kami adalah Asotipo, sebuah tempat wisata yang sangat menarik. Jaraknya sekitar 15 kilometer ke arah selatan Kota Wamena. Dinamika medan perjalanan cukup variatif, dengan kombinasi antara jalan datar, tanjakan, dan turunan. Medan tanjakan mengisi sekitar 25 persen dari total jarak perjalanan. Dengan kondisi ini, penggunaan sepeda gunung dengan minimal kecepatan 21 (21 speed) cukup disarankan. Penggunaan sepeda gunung ini juga berguna untuk menghadapi kondisi perjalanan off-road yang menyumbang sekitar 10 persen dari total perjalanan.

Setelah mengayuh sepeda sekitar lima kilometer, kesegaran alam pegunungan benar-benar melingkupi seluruh perjalanan. Seluruh pemandangan dan suasana yang tersaji benar-benar menggoda untuk kita banyak berhenti demi berfoto atau sekedar melemparkan pandang sembari melepaskan perasaan dan tersenyum bebas.

Dari ketinggian, medan longsoran menjadi seperti pasir dan alam tampak sedemikian kokoh. Foto: Prana Sunaryo.

Sedangkan di lima kilometer berikutnya, kita akan mendapati medan off-road yang sangat menantang, seolah “memaksa” kita bermain dan menjajalnya. Menurut penduduk setempat, medan off-road ini terbentuk akibat terjadinya longsor dari gunung yang terdapat di latar belakang. Longsoran ini benar-benar menyajikan suatu pahatan sangat indah pada wajah alam dan wahana mengasyikkan untuk menikmati ciptaan-Nya.

Tak jauh dari dekat longsoran, ada sebuah jembatan gantung kuning yang melintasi Sungai Baliem. Anda dapat melaluinya jika ingin menikmati pemandangan longsoran dari atas bukit di seberangnya untuk mendapatkan sudut yang lebih luas dan lebih “wah” lagi.

Jika tak hati-hati, Anda dapat terjerembab seperti ini. Foto: Prana Sunaryo.

Meski pemandangan di sini begitu luar biasa, jangan sampai Anda lengah. Medan perjalanan di sini terasa cukup sulit. Misalnya jalan setapak kecil di punggung bukit, yang benar-benar menuntut kecermatan kita saat melewatinya. Sebab jika lengah sedikit, kecelakaan kecil pun bisa terjadi.

Pada ujung perjalanan berdurasi 1,5 jam, akhirnya kami tiba di Asotipo. Satu hal yang sangat menyenangkan adalah ketika pengunjung tidak ramai. Kita jadi dapat membawa sepeda sampai ke pinggir sungai dan menikmati merdunya gemercik air sungai yang menyapa bebatuan.

Karena kami menggunakan sepeda, untuk memasukinya kami dikenai tarif Rp 10 ribu per orang. Harga berbeda akan terjadi jika Anda menggunakan kendaraan bermotor. Setelah itu kita dapat menikmati tempat wisata ini sepuasnya. Di sini terdapat beberapa dangau yang dapat digunakan dengan cuma-cuma dan bahkan kita dapat mengadakan barbekyu di pinggir sungai.

Menikmati gemericik air yang berpadu dengan eksotika lembah. Foto: Dokumentasi Prana Sunaryo.

Tak terasa sore sudah menjelang. Puas sudah menikmati pesona alam yang tak terbilang ini. Saat pulang menuju Kota Wamena, durasi perjalanan ditempuh dengan lebih singkat. Sebab, medan perjalanan yang pada saat berangkat relatif menanjak membuat perjalanan pada waktu pulang ibarat tinggal meluncur menuruni perbukitan.

(26)

Prana Sunaryo Prana Sunaryo lahir pada 6 Mei 1980. Saat ini bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat dan bertempat tinggal di Wamena, Papua.

Comments with Facebook

Comment(7)

  1. Terimakasih aku sebagai anak balim sampaikan saudaraku mengangkat martabat orang balim dengan mengoleksi foto semoga leluhur orang balim dan Tuhan Yang Maha Kuasa memberi jalan yang benar dalam keluargamu, saudaraku.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Trus nabung pak dan cari sponsor, agar kegiatan petualangan bapak dapat berkesinambungan, sehingga kami-kami trus dapat menikmati tulisan-tulisan perjalanan bapak.

    ifholidayiseveryday

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Hi, salam kenal Kawan-kawan.

    Terima kasih untuk komentar2nya.
    Saya akan coba hadirkan kembali spot lain di Lembah Baliem ini.

    salam,
    Prana S.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Dear pak Prana,

    Salam kenal, saya Yudi dari Nabire, Papua. Saya takjub dengan tulisan perjalanan Bapak mengarungi keindahan lembah baliem. Saya tertarik untuk berkenalan dengan Bapak. Saya seorang travel planner yang sedang berusaha menciptakan iklim pariwisata di Papua umumnya dan Irian Jaya Tengah khususnya. Saya ingin sekali suatu waktu bisa berbincang-bincang dengan Bapak karena saya lihat Bapak begitu antusias dengan kegiatan pariwisata, penilaian saya dari tulisan Bapak. Semoga Bapak tidak keberatan, ini email saya : myep_3@yahoo.com.
    Semoga saya bisa mendapat kabar baik dari Bapak.

    Salam,
    Yudi Eko

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Terimakasih Pak Prana, sharing tulisannya tentang daerah Papua.. Ternyata daerah di sana nuansa alamnya bagus sekali.. Pantas teman2ku banyak juga yang tertarik jalan ke sana..

    Kayanya papah Amaar sama mamah amaar dan group Bike-nya mesti tau nih daerah ini ..

    Terimakasih Pak Prana.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Wah mas saya jadi ngiri nih enak ya bisa jalan2x di pedalaman Irian…. Suasananya muantab…. Sayang fotonya kurang banyak nih he…he. Siplah.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Salam kenal Pak Prana Sunaryo,

    Pemandangannya sungguh menakjubkan, sudah lama saya ingin ke tanah Papua, kalo ada foto2 lain tolong dilampirkan ya pak.
    OK, sukses untuk bapak.

    Best Regards,
    Syarif Hidayat

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *