Home Featured Singkawang, Kota Seribu Pekong

Singkawang, Kota Seribu Pekong

257
6
Kelenteng. Foto-foto: Yonathan Rahardjo.

Malam merambat dalam gelap. Cahaya merah bersinar di kelenteng. Rumah rakyat berhiaskan Joshua sebagai alat ibadah. Di tepi barat Kalimantan Barat, kami berjalan memasuki sebuah kawasan yang didominasi kebudayaan China. Singkawang.

Dalam gelapnya malam, kerlap kerlip cahaya mengundang makna tersendiri. Ia bukan bersumber dari Joshua. Bukan pula dari lampu-lampu rumah penduduk. Lampu itu berwarna warni. Ada yang berputar dan berjalan. Ya, itu lampu karaoke. Itulah tempat hiburan malam yang terbuka sampai pagi.

Menjamurnya karaoke membuat saya dan kawan berbincang tentang sebuah resiko sosial bernama AIDS; sebuah penyakit yang pada Agustus 2009 lalu dibahas dalam forum intenasional di Bali. AIDS sangat riskan terjangkit di Singkawang, juga dimanapun, akibat pola hidup masyarakat setempat.

Apa pasal? Di sini ada kebiasaan kawin kontrak antara amoy-amoy alias gadis setempat dengan orang asing. Dengan nilai nominal yang disepakati bersama orang tua, amoy-amoy itu bisa dibawa dalam jangka waktu tertentu. Tanpa pengamanan kesehatan yang ketat, banyak dari mereka yang terserang AIDS. Bahkan, angka kejadian penyakit itu menempati posisi nomor tiga di Indonesia.

Sambil berbincang, kendaraan terus melaju. Jalanan yang sedari tadi sepi semakin menunjukkan jati diri sebuah kota. Kota kecil yang permai. Pemandangan elok di mana-mana. Asri dan tertata rapi. Pohon, rumah, bangunan, pagar, tumbuhan, memang tampak samar di kegelapan malam. Namun, cahaya yang bersumber dari neon, dop, dan ujung joshua yang terbakar mampu menyeimbangkan gelap itu dengan keindahan mempesona.

Hotel tempat kami beristirahat sudah menanti. Kami akan menginap di sebuah hotel milik seorang tokoh nasional asal Kalimantan Barat, Usman Sapta. Di hotel yang berada tepat di pusat kota, di sudut pertigaan jalan raya, penyanyi menyambut di malam yang sunyi.

Malam makin larut. Musik-musik lama masih terdengar. Saya melangkahkan kaki menyusuri halaman, keluar hotel, berjalan di atas trotoar, menyeberang jalan, dan melihat-lihat suasana sekitar. Warung hanya dua buah yang buka, di seberang hotel, di salah satu sudut pertigaan jalan. Ciri khasnya yang tak saya jumpai di tempat lain adalah kursi plastik berwarna dengan punggung mengeliling meja tempat makanan dan minuman. Sementara toko-toko sudah tutup. Jalan lengang.

Saya kembali masuk ke dalam hotel. Lagu-lagu sudah berhenti. Hanya satu deru sepeda motor lewat yang terdengar.

Esok harinya kami melaksanakan rencana. Kami mengunjungi sejumlah tempat di Kota Singkawang; kota kecil yang maju dengan segala geliat pembangunan. Semua ada di sini: gedung pemerintahan, gereja, masjid, perkantoran, pasar, sekolah, kafe, pertokoan, perumahan, monumen di perempatan jalan, rumah sakit, pemakaman Kristen, pemakaman Islam, atau pemakaman Tionghoa. Bangunan-bangunan khas yang sangat menyolok dan jarang ada di kota lain di Indonesia juga dapat dijumpai di kota ini. Itulah kelenteng, vihara kuil atau pekong.

Sangat mudah menjumpai tempat ibadah Kong Hu Cu di kota ini. Jumlahnya begitu banyak, baik di dalam kota, di pinggiran kota, dan menuju ke luar kota, seiring dominasi wajah-wajah China, Tionghoa, yang lebih senang disebut warga keturunan. Karena jumlahnya begitu banyak, Kota Singkawang lantas terkenal dengan julukan Kota Seribu Pekong.

Kelenteng

Pekong memang ada di mana-mana. Pekong ada di perempatan pusat kota, di pinggir jalan raya dalam kota, di dekat pasar, di dekat perkantoran, di dekat rumah penduduk, di halaman rumah penduduk, di tepi jalan kecil menuju pedalaman, di tengah-tengah lahan kosong berbelukar, di bawah rerimbunan dan rindang pepohonan, di hutan kaki gunung, di leher gunung, bahkan di puncak gunung.

Pekong atau kelenteng, baik yang besar maupun kecil, ini sangat khas. Ornamen-ornamennya berupa patung naga atau dewa-dewi khas Cina. Warnanya beragam: merah menyala, kuning kontras, atau hijau dan biru.

Di awal reformasi, sempat terjadi huru hara berupa peperangan etnis. Ini merupakan kelanjutan dari tekanan-tekanan terhadap etnis China yang dianggap sebagai bibit subur komunisme di tanah yang berbatasan dengan Malaysia ini. Namun, semua pertentangan itu berhenti ketika pemerintah membuka eksistensi kehidupan warga Tionghoa dengan segala budayanya. Alhasil, etnis Tionghoa pun dapat hidup merdeka.

Selain dari berdirinya pekong di mana-mana, harmonisasi antaretnis dan keyakinan itu juga tampak dari kehidupan warganya sendiri. Di dalam kota, rata-rata etnis China hidup berkecukupan sebagai pedagang atau pekerja kantoran dan pemerintahan. Bahkan, walikota Singkawang kini adalah warga keturunan. Demikian juga pengusaha-pengusaha besar, seperti grup perusahaan peternakan dan pabrik pupuk organik, yang turut menjadi motor pembangunan pesat kota ini, termasuk di bidang budaya dengan mendirikan banyak pekong.

Meski demikian, tak seluruhnya warga keturunan ini hidup sejahtera. Banyak diantara mereka yang juga berada di garis kemiskinan. Mereka tinggal di rumah-rumah sangat sederhana di pinggiran kota dan jalan-jalan menuju pedalaman. Dan jika dibandingkan dengan Kota Singkawang dengan lampu kerlap-kerlipnya, nuansa kontras dengan kemiskinan di pinggiran kota akan cukup terasa.

Namun, walau hidup dalam kemiskinan, dengan lantai dari tanah liat, dinding kayu, dan genteng yang kondisinya bahkan tidak jauh dari gubuk, di tiap rumah pinggiran kota tampak tersedia meja biliar yang menjadi tempat penduduk menghabiskan waktu di malam hari.

Di dalam kota, pada malam Minggu, banyak anak muda yang mejeng di kiri kanan jalan memenuhi sekujur badan jalan. Dengan pakaian seksi, para gadis remaja dan atau jejaka muda mengemudikan motor secara berkonvoi. Mereka menghabiskan malam panjang dengan mengelilingi semua jalan raya kota. Keramaian tumpah ruah, kebisingan dan kemacetan kerap terjadi.

Kelenteng

Hingga waktu merembet malam, para remaja, yang kebanyakan amoy dan sinyo warga keturunan dengan bahasa Engkek, bahasa khas Singkawang yang dibawa dari daratan Cina, beristirahat di kafe-kafe yang terdapat di pinggir jalan. Sepeda motor mereka parkir di pinggir, berjajar-jajar. Mereka menebus lelah setelah berkonvoi sepeda motor dengan menikmati minum dan hidangan kafe, sampai pagi.

Minggu pagi, bekas suasana malam itu masih terasa. Kursi kafe ditumpuk-tumpuk dan penampilan kafe kosong dengan sisa keramaian. Suasana gelap telah berubah temaram. Udara dingin pegunungan telah turun. Kabut tertepis. Cahaya alam secara bertahap berubah terang. Kehidupan telah berubah wujud. Kalau semalam para remaja melakukan konvoi sepeda motor, pagi ini remaja muda juga muncul dalam wujud pejalan kaki bersepatu olahraga. Entahlah jika mereka insan yang sama atau berbeda.

Sementara suasana di pekong-pekong pun mulai diramaikan oleh umat Kong Hu Cu untuk beribadah. Mereka membawa josua, membakar dupa, menyembah para Dewa Dewi, menghormati para leluhur, mempersembahkan sesaji-sesaji, menyampaikan permohonan, membakar kertas yang menyalakan api kuning, merah dan biru, membungkuk, dan menguncupkan tangan di atas kepala.

Umat Kong Hu Cu datang dengan berjalan kaki, bersepeda, bersepeda motor, dan bermobil. Pada sekujur wilayah Singkawang, pekong terus menjadi sarana penyembahan kepada Sang Pemberi Kehidupan berkemakmuran.

(257)

Yonathan Rahardjo Penulis asli Bojonegoro, Jawa Timur, pengarang novel “Lanang” yang menjadi salah satu Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2006, novel “Taman Api”, novel “Wayang Urip”, Kumpulan Cerpen “13 Perempuan”. Karya tunggal dalam penulisannya yang lain adalah “Avian Influenza: Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), antologi puisi: “Jawaban Kekacauan” (2004), dan “Kedaulatan Pangan” (2009). Sejak 1983, puisi, cerita pendek, esai sastra, opini, dan karya jurnalistiknya dipublikasikan pada berbagai terbitan dan media massa. Dia punya pengalaman pada pertunjukan puisi, baca puis, dan syairupa (kolaborasi baca puisi dan melukis). Dia aktif pada sejumlah komunitas sastra, budaya, lingkungan, dan dokter hewan.

Comments with Facebook

Comment(6)

  1. Aku dulu pertama kali ke Singkawang tahun 1987, menginap di hotel apa ya? Lupa namanya, tapi kalau lihat gambar di atas, hotelnya di daerah pusat kota, yaitu dekat kelenteng yang di pusat kota Singkawang itu. Hotel Mahkota yang punya Usman Sapta Odang kayaknya belum ada deh atau lupa saya apa, karena tarifnya yang mahal makanya aku gak nginap di sana. Kota Singkawang enak deh apalagi yang gak pantangan makan, banyak makanan yang enak-enak. Sekarang mau imlek pasti rame sekali, dulu juga aku pas lagi imlek rame banget… Singkawang oh Singkawang… Pengen deh ke sana lagi. banyak amoy yang cantik-cantik… hehehe….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Februari, kami beserta rombongan berencana berangkat kesana untuk Cap Go Meh..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Saya suka Singkawang. Nuansanya sangat eksotis. Seperti berada dimana gitu… Salut buat Mas Yonatan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Dari pontianak jalan darat 3 jam kecepatan mobil rata2.

    Penginapan bagus di tengah kota bernama Hotel Singkawang.

    Bahasa Indonesia dan bahasa Mandarin dialek kek.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Pengin ke Singkawang di Kalbar nih, bagaimana akses transportasinya dan ketersediaan kendaraan umum dan penginapannya? Bahasa utama yang dipakai di sana bahasa atau dialek apa? Terimakasih atas perhatiannya.
    Shaleh Wagiyo (guangzhou – china +8613826215720)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *