Home Eksklusif Mengendus Negeri Dengan Kesenian
11

Mengendus Negeri Dengan Kesenian

42
11
Teuku Rifnu Wikana. Foto-foto: Siti Nurdina.

“Kalau aku yang jadi pemimpin, lantas siapa yang memberiku nasehat?”

Anda yang pernah menonton film “Merah Putih” tentu tak asing dengan percakapan di atas. Ya, itulah Dayan, seorang pejuang asal Bali yang bijak namun beringas saat bertempur melawan Belanda. Dayan diperankan oleh pemuda keturunan Aceh, Teuku Rifnu Wikana. Film tersebut adalah trilogi yang seri pertamanya sudah diputar di bioskop dan mendapat apresiasi yang cukup positif.

Banyak orang memandang bahwa Teuku Rifnu Wikana cukup baik berperan sebagai Dayan. Sejumlah percakapan yang dibangun dalam film tersebut seringkali mengandung makna yang dalam. Sebutlah ketika Dayan disindir oleh pejuang dari Manado karena bisa berdansa. Katanya, “hati-hati kalau bicara. Kami pulau terakhir yang dikuasai Belanda”.

Begitu juga dengan aksinya saat menyergap pasukan Belanda di atas sebuah jembatan. Meski orang sontak dapat mengidentifikasikannya dengan aksi Mel Gibson dalam “The Patriot”, namun itu tak serta melepaskan decak kekaguman. Penghayatan Teuku Rifnu Wikana pada Dayan memang patut diacungi jempol.

Tapi, siapa Teuku Rifnu Wikana?

Pemuda Aceh yang biasa disapa Wika ini lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 3 Agustus 1980. Di pematang Siantar, masa kecilnya banyak diisi dengan permainan yang serba alam. Mencium bau tanah yang alami lebih disenangi Wika kecil ketimbang bermain Nintendo. Ia menyusuri kali dari ujung satu ke ujung lainnya untuk mencari belut; nganyut sekian kilometer dengan gedebog (batang pohon) pisang; membuat tenda-tendaan dari daun kelapa; sampai memasak sendiri belut yang ditangkap dengan menggunakan periuk dan kuali dengan tungku batu.

Ketika bermukim di Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, Wika kecil  juga terkenal sangat cepat memanjat pohon kelapa. Ia pemelihara ayam yang handal dan lihai menangkap burung merpati hanya dengan tangan kosong. Tak terhitung berapa ekor burung merpati milik neneknya yang ditangkap olehnya untuk kemudian digoreng atau malah dijual.

Wika berkenalan dengan dunia seni peran, teater, sejak kelas empat Sekolah Dasar. Ketika itu Wika kecil bermain teater untuk acara maulid di beberapa tempat dan disutradarai oleh pamannya. Sejak itulah ia senang dengan dunia seni peran. Dimasa remaja, Wika berkecimpung di dunia broadcasting sebagai penyiar dan pernah menjadi station manager di radio CAS FM di Pematang Siantar. Sempat kuliah di jurusan Planologi (Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota) Institut Teknologi Medan sebelum akhirnya hijrah ke Jakarta dan mengikuti Festival Film Independen Indonesia tahun 2003. Film pertama yang dibuatnya berjudul “Tuminok, Tuminik, Tomorrow” yang bergenre komedi.

Pada senja di awal September 2009, di saat hujan menderas, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan Wika. Di salah satu tempat makan di pelataran Taman Ismail Marzuki, Jakarta, ia tampak cukup antusias ketika diajak berbicara soal kebudayaan Indonesia. Berikut petikan perbincangan saya.

Anda bermain sebagai pejuang dalam film “Merah Putih”. Apa kesan yang Anda dapat dari film tersebut?

Gue lebih bisa memaknai Indonesia. Artinya, selama ini kan gue berpikir bahwa Pancasila hanya sekedar Pancasila, lagu kebangsaan ya hanya sekedar untuk dinyanyi-nyanyiin doang. Tapi saat proses (film) itu, kita diceritakan (tentang) sejarah Indonesia, sampai kita menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Gue merasa (penghayatan tentang bendera) merah putih yang selama ini kita anggap cuma bendera doang, itu semakin kuat.

Di film “Merah Putih” Anda berperan sebagai Dayan, pejuang dari Bali. Di film itu juga ada pejuang dari Jawa dan Manado. Semua berbaur. Ada rasa nasionalisme disitu?

Ooo… itu jelas banget. Karena sejauh ini yang gue kenal itu mungkin daerah gue ya. Itulah untungnya pemain itu bisa memainkan beberapa karakter. Ya untungnya kayak yang gue mainkan kali ini, tokoh dari Bali. Gue belajar tentang apa sih itu Bali, apa sih itu Hindu, sementara gue muslim. Tapi gimana (caranya) gue bisa masuk ke situ…. Dan juga gue bisa belajar tentang Manado, Jawa… segala unsur suku yang ada di situlah. Apalagi kan kebetulan penulisnya bule, dari luar, banyak hal-hal yang dia nggak tau tentang Indonesia. Jadi gue semakin terpacu untuk mencari tahu lebih dalam tentang Indonesia, dan setelah gue dapet, wah… Indonesia itu kaya banget.

Dari berbagai macam suku yang ada, kemudian lahir satu semangat yang sama untuk mempertahankan Indonesia? Anda mendapatkan itu?

Ya, di sini yang diangkat adalah dari perbedaan itu, yang selama ini ada pada kita, diantara kita dengan yang lainnya. Seperti peperangan yang terjadi di Kalimantan, dimana-mana. Setelah gue mempelajari Bali atau Manado, (seperti) asal mulanya kenapa si tokoh Manado ini pergi ke Jawa, padahal Manado saat itu mungkin tidak seperti yang kita bayangkan. Tapi ada hal-hal yang membuat gua akhirnya (bilang) ‘oooo… ternyata pejuang ini sama dengan si pejuang ini, sama seperti ini dulunya’. Jadi kita sama-sama menyatu saat mau menumpas Belanda itu. Padahal ini cuma dalem film, tapi gue merasa… saat itu sebagai orang Bali, wah… inilah esensi Bhineka Tunggal Ika.

Anda berkecimpung di dunia teater cukup lama. Bahkan bisa dibilang besar di dunia teater. Dalam berkesenian selama ini, peranan apa yang Anda mainkan. Apa sebagai pemain, penulis juga, atau pembuat film?

Yaa, dalam teater ada berbagai unsur. Ada keaktoran, ada artistik. Jadi untuk mendukung semuanya, gue harus mempelajari semuanya. Saat ini fokus gue keaktoran, walaupun diteater gue menyutradarai dan menulis juga. Kemarin kita pernah menang di Jakarta pusat, dapat grup terbaik, artistik terbaik. Eee… ada empat penghargaanlah.

Untuk pertunjukkan teater?

Iya.

Judulnya?

“Sel kebebasan”.

Tentang apa itu?

Nah, “Sel Kebebasan” itu salah satu pertunjukkan yang aku sutradarain. Dan di sini, waktu di DKI (Jakarta), juga dapet (penghargaan sebagai) penulis terbaik. Dulu ketika kita terpenjara oleh sistem, tapi ada yang berani melakukan sesuatu tindakan, akhirnya dia muncul sebagai salah satu tokoh yang kuat. Betapa sulitnya Rendra (misalnya) ketika mengeluarkan puisi-puisinya… sampai dipenjara, disiksa, tapi mereka berani melakukan sesuatu. Sekarang, dengan adanya kebebasan itu, kita bebas mau ngomong apa saja, mau bicara apa saja, bertindak apa saja. Tapi saat kebebasan itu ada, kita sendiri yang membuat sel di diri kita. Akhirnya kita nggak bisa berbuat apa-apa, hanya ngomongin orang doang, dan disitu selama bertahun tahun, Nah itu yang aku angkat.

Anda memainkan itu di Teater 21 April. Apakah teater itu milik Anda?

Bareng-bareng (kawan-kawan lain), kita sama-sama. Itu seperti lab (laboratorium). Jadi, nanti tahun ini dia yang nyutradarain, tahun ini dia (yang lain lagi).

Apa yang ingin Anda suguhkan dari Teater 21 April?

Mmm… ya, mempertanyakan kehidupan kembali, baik itu dari kecacatan manusia, sisi positifnya manusia, menunjukkan sisi hitam-putihnya manusialah. Memang itu kan esensi dari pertunjukkan teater, hitam dan putih. Tapi, kita sudah sangat-sangat terbius dengan kemegahan, keindahan, mobil mewah di sinetron, wajah-wajah yang halus. Tapi saya justru mau mengangkat ‘ini lho kebobrokan itu’. Jadi dari situ orang bisa bercermin. Lo tertawa tapi hati lo menangis. Dan, satir yang mau saya angkat di setiap pertunjukan-pertunjukan, baik di teater dan film.

Jadi Anda lebih mengeksplorasi seni dari pahit getirnya kehidupan?

Iya, tapi tidak dibawakan dengan getir juga. Justru saya bawakan ke komedi. Sebenarnya komedi adalah tragedi sebenar-benarnya. Jadi ketika ada satu cowok yang lagi menaikkan resletingnya, tiba tiba “itu”nya tersangkut dan berteriak ‘aaaarrgghh!’. Kan sakit banget. Tapi kita melihatnya lucu, padahal itu pahit.

Oh dulu di gunung kembar ada pertandingan conglak lho, antara Tuhan versus Presiden. Penontonnya banyak. Malaikat-malaikat sebelah kiri, menteri-menteri, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) sebelah kanan. Nah, jurinya siapa? Seniman, hehehehe. Wuih, kita para penonton rakyat jelata di luar pagar, nggak boleh masuk, dijaga oleh barikade-barikade. Oh seru. Awalnya Tuhan menang, tapi presiden senyum-senyum aja. Hehehe… politik agama katanya. Dubrak, seketika Tuhan kalah. Malaikat nangis semuanya, hahahaha. Jadi dengan lelucon-lelucon itulah yang mau dimunculkan.

Teuku Rifnu Wikana.

Oke. Indonesia dikenal punya banyak ragam budaya. Pandangan Anda terhadap budaya suatu bangsa itu bagaimana?

Budaya itu kan seperti cerminan. Itu yang dilihat orang luar. Dan budaya kita itu kan sangat luar biasa, sangat kaya sekali. Dan kalau saja sejak kecil rakyat kita seperti, kalau dalam agama itu…, akhlak dalam kebudayaannya bagus, saya pikir negara kita akan jadi negara yang super power. Tapi sayangnya, orang-orang kita takut. Mungkin, eeee… pikiran saya saja nih, jangan-jangan orang kita ini takut masuk ke (ranah) kebudayaan karena dulu seni dan kebudayaan itu sempat menjadi momok. Sempat menjadi racun. Ketika gua terlibat di situ, ntar katanya gue seperti dari golongan yang ini dan ini. Padahal itu sebenarnya pondasi. Makanya saya sedih kadang melihat kebudayaan kita sekarang ini, banyak yang lupa. Budaya kita sekarang kan “mall“. Kita bukan lagi melihat esensi dari kebudayaan itu, tapi (sebagai) aksesori.

Bangsa yang besar itu adalah bangsa yang tahu akan sejarah bangsanya. Bagaimana menurut Anda?

Iya. Gimana lo mau ngerti bahasa asing tapi bahasa sendiri asing? Bahasa itu lebih simbolik. Artinya kita mau mengerti budaya luar, (tapi) budaya sendiri dikesampingkan. Akhirnya banyak juga orang-orang politik yang memanfaatkan kebudayaan itu sebagai alat untuk promo segala macam. Jadi seperti itu kebudayaan kita. Bukan lagi sebagai budaya itu sendiri.

Orang-orang pemerintahan kita juga kayaknya ogah masuk ke kebudayaan. Kalaupun misalnya ada budaya yang mau muncul, seperti budaya perfilman… Deeeeng! Langsung dibuat undang-undang. Tiba-tiba ada saja isu-isu yang seolah-olah membelokkan, ‘ooh jangan ke situ, ooh jangan ke sini’. Akhirnya kita lihat seperti ronggeng atau apapun dari daerah-daerah, yang ngamen di pinggir jalan yang dibayar seratus dua ratus rupiah untuk biaya keluarganya. Padahal dia itu mencintai kesenian dari sejak lahir. Tapi ternyata setelah dewasa, malah jadi pengamen. Itu yang saya sedih, kadang. Jangankan itu (merasakan kegetiran seniman), saya hanya melihat video klip tentang itu, saya bisa nangis. Dua kali saya nonton, dua kali nangis. Lagunya siapa itu, eee….

Yang ada ronggengnya itu? D’Masiv?

D’Masiv. Iya… (Wika kemudian menyanyikan penggalan lagu D’Masiv dengan terpatah-patah). ‘Tak ada manusia… na na na na… sempurna….’ (Tak ada manusia yang terlahir sempurna). Saya nangis bener, saya nangis….

Benar-benar menyentuh ya?

Menyentuh…. Saya benar-benar nangis. Getir. Jadi begitulah kebudayaan kita, kesenian kita.

Nah, kalau diberi kesempatan bermimpi tentang budaya, mimpi seperti apa yang Anda inginkan tentang budaya Indonesia?

Mimpi saya, ya dimana aku bisa mencium Yogya dengan tarian-tarian, kesenian-kesenian Yogya. Masuk ke Medan, aku mencium harumnya kesenian Melayu. Masuk ke Aceh juga begitu. Kalimantan juga.

Aduh… (tiba-tiba Wika berdiri dari kursi karena terkena air yang menetes dari atap yang bocor).

Lho kok bocor? Hahaha….

Hahaha… ini budaya bocor….

Kami kemudian menggeser bangku dan melanjutkan perbincangan.

Mas Wika, sebagai pemuda Pematang Siantar, apa yang ingin Anda lakukan untuk tanah kelahiran melalui dunia seni?

Mmm… gue kan tanah kelahiran Pematang Siantar, dan suku gue kan Aceh. Itu keuntungan gue. Dan kedua orangtua gue sekarang di Aceh. Dan untuk tanah kelahiran gue, itu banyak tempat-tempat yang dapat dijadikan sesuatu.

Potensi wisata mungkin?

Ya itu bisa, dan dimajukan lagi. Mungkin kalo gue dengan cara berkarya di sana dan melibatkan orang-orang di sana. Dan menularkan bahwa ini adalah sesuatu yang bisa menjadi sesuatu. Mungkin dengan film gue buat, karena kalau untuk pertunjukkan teater di sana belum ada. Atau dari dokumenter gue buat. Jadi orang lebih menyadari, ‘ooh iya, ini milik gue, gue harus menjaga’. Selama ini kan kita melihat… ya gimana sih, kita mau melihat muka sendiri, sulit kan. Kita hanya bisa melihat muka orang lain, membayangkan muka orang lain.

Apakah menurut Anda semua budaya yang ada di Indonesia ini sudah bernilai wisata?

Belum. Misalnya gedung-gedung tua di Medan. Di belakangnya itu orang buang air. Terus seluruh daerah Aceh Selatan, dari Tapak Tuan, Sabang…. Itu indahnya luar biasa. Bernilai sejarah. Mungkin seluruh Indonesia belum (bernilai wisata), yang bisa kita lihat cuma di majalah-majalah di pesawat, hahaha. ‘Oooh Belitung, wah Belitung itu indah banget’. Itu Malaysia bisa triliunan dapat dari wisatanya doang. Sementara kita, sama sekali nggak ada. Paling yang umum-umum saja. Padahal banyak banget, ribuan.

Adakah tempat di Indonesia yang belum dikunjungi atau sudah pernah dikunjungi dan ingin sekali pergi kesana?

Kalau yang belum dan ingin sekali saya kunjungi ya di daerah timur Indonesia. Kemarin saya ke Makasar cuma nggak sempat kemana-mana. Flores… Manado… pengen banget saya menjelajahi daerah itu.

Anda biasa menghabiskan waktu luang dengan cara apa?

Mmmm, waktu luang yaa… menulis untuk film, naskah drama, puisi-puisi.

Membaca Buku?

Ya pastilah, (kalau) buku lebih ke filsafat ya, yang berbau itulah. Nah ini saya lagi mau masuk ke filsafat agama, filsafat Islam. Untuk menguatkan pondasilah, supaya nggak hanyut, hahahaha. Novel-novel juga yang berbau seperti itu, dari SMA (Sekolah Menengah Atas) saya suka baca karya seperti novelnya Iwan Simatupang.

Anda masih muda. Adakah sebuah keinginan yang ingin Anda capai yang bisa menjadi milestone dalam hidup?

Usia gue sekarang kan masih 29 tahun. Target gue, di sekitar usia 40 tahun, gue pengen menyutradarai dan membuat film yang mengangkat tentang seni dan budaya kita. Dalam kurun waktu 11 tahun ini, kerja gue adalah bagaimana dari karya-karya terkecil gue, misalnya film pendek, paling tidak bisa mengingatkan orang untuk, ‘heeeei, jangan terlalu jauh… balik lagi, lo liat dulu budaya lo’.

(42)

Siti Nurdina Penulis lepas di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(11)

  1. Kak Wika mmg menghayati bgt di film merah putih apalagi yg darah garuda berjiwa kebangsaan bgt,,

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. salut deehhh,,dengan pengetahuand kak “Tengku Rifnu” mengenai budaya Qt ini.
    ya’ betul ngapain pelajari Budaya asing,,kalau budaya sendiri menjadi asing.
    Gak heran kenapa orang lain kagum,,omongannya aja spontan mengenai Budaya kita yang semakin menipis dan lama-kelamaan bakal Bocor.mangkanya cegah kemenipisan itu biarrrrrrr gak Bocorrrrr.
    sukses buat Ngana.Semoga cita-cita Ngana di umur 40 itu tercapai
    aminnn.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 2.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  3. Ada yg slh: Katanya, “hati-hati kalau bicara. Kami pulau terakhir yang dikuasai Belanda”
    Bukan “dikuasai Belanda” tpi Dayan ngomong Belanda-nya “kulit putih”, jdi ngomongnya “hati-hati kalau bicara. Kami pulau terakhir yang dikuasai kulit putih”

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  4. Hey I’m your huge fan man! Seriously! I adore you, Bang Wika!! And you know what, well this is so random lol, April 21st is my birthday. Teater 21 April, haha, it’s named after my birthday 😛

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 1.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  5. Wika adalah sosok yang pantang menyerah. Ketika 2003 dia mencoba datang ke Jakarta untuk menjadi artis, banyak yang mencemooh. Namun dengan sifat pantang menyerah sekarang dia dapat membuktikan semua mimpi-mimpinya. Walaupun sekarang dia sudah terkenal,dia tetap low profile. I love U, bro…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 2.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  6. Hidup Dayan hidup Thomas! Dari Kalimantan Timur, film Merah Putih cukup membuat saya bangga.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 2.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +2 (from 2 votes)
  7. Sekuel Merah Putih 2 kapan mainnya?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  8. Keren abis ni orang yang diwawancara apalagi dari cerita-ceritanya,beee gak ada lawannya deh…? Saya suka sama Teuku Rifnu Wikana karena beliau sosok seniman sejati. Beliau merupakan salah satu aktor favorit saya sebab aktingnya sangat memukau, bukan cuma saya, teman-teman saya juga banyak yang bilang. Kapan ya saya bisa ketemu langsung sama Teuku Rifnu Wikana. Good luck buat Teuku Rifnu Wikana (bang Wika).

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  9. Tumben film Indonesia gak ada setannya, hahahha… Tooop…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  10. FIlm ini memang bagus sekali. Salut!!! Salam dari Bugis!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  11. Yang nulis cakep yang ditulis juga cakep. Sosok wika adalah teman yang menyenangkan, mau berbagi ilmu dan bisa jadi guru yang bijak…. Selama shooting film Merah Putih kita banyak diajari cara pengucapan dialog yang benar dan enak… hampir tidak ada batasan antara senior dan yunior…. sekali lagi terima kasih Dayan… Tanpa anda saya bukan siapa-siapa….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *