Home Lancong Mencari Kesunyian di Riam Kanan
7

Mencari Kesunyian di Riam Kanan

154
7
Jembatan Pulau Pinus Dua. Foto-foto: Yudasmoro Minasiani.

Empat sepeda motor yang kami gunakan dari Banjarmasin masih menyusuri jalan-jalan berkelok yang sepi. Tujuan kami adalah danau Riam Kanan di desa Aranio, Kalimantan Selatan. Perjalanan sudah berlangsung hampir dua jam. Langit di perbukitan mulai gelap karena mendung. Di beberapa tempat saya melihat hujan sudah mulai turun.

Sebuah jalan agak kecil berbelok ke kanan yang agak sempit membuat motor kami harus pelan-pelan mengikuti jalurnya. Jalan masuk terus menurun sebelum akhirnya kami memasuki sebuah pintu gerbang yang tak begitu besar. Akhirnya kami tiba di Danau Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Riam Kanan.

“Enam ribu buat empat motor,” kata penjaga gerbang sambil menyerahkan karcis pada saya.

Sebagai tempat wisata alternatif di Kalimantan Selatan, Riam Kanan sebetulnya mempunyai potensi yang sangat menjanjikan. Danau besar dan pulau-pulau yang tersebar langsung menyejukkan mata saya yang terasa lelah selama perjalanan. Sayang, waktu turun dari motor, angin bertiup cukup kencang dan hujan rintik-rintik mulai menghujam tanah.

Sebuah bangunan kayu yang amat sederhana menjadi tempat kami untuk berteduh siang itu. Hujan yang tadinya hanya gerimis, akhirnya menjadi sangat deras dan diikuti dengan tiupan angin yang lumayan kencang.

Setelah hampir 30 menit menunggu, hujan pun berhenti dan kami akhirnya memutuskan untuk pergi dengan kapal yang sudah kami carter. Ditengah hujan yang masih turun, kapal motor yang kami tumpangi mulai membelah Danau Riam Kanan. Tak ada gelombang tinggi yang saya rasakan karena kawasan ini adalah danau yang dibendung oleh sebuah bendungan besar.

Udara dingin mulai menyelimuti. Kami kedinginan dan kebasahan karena terkena cipratan air hujan yang cukup deras. Beberapa pulau-pulau kecil kami lewati dan terlihat banyak sekali kayu-kayu semacam batang pohon besar yang menyembul keatas. Entah dulunya dasar danau ini hutan atau memang ada tanaman besar yang dari dulu tumbuh di dasar danau.

Pulau Pinus Dua

30 menit membelah danau, akhirnya kami sampai di Pulau Pinus Dua. Dari kejauhan, pulau ini terlihat sepi tak berpenghuni. Namun, ketika sudah agak dekat, beberapa bangunan rumah sederhana menyembul di balik pepohonan. Beberapa ekor kerbau yang sedang menikmati rumput segar juga terlihat di pinggir danau.

Sebuah pemandangan tak biasa juga saya lihat di sini, yaitu seekor biawak yang berenang menyeberang dari satu sisi pulau ke daratan di seberangnya. Cukup jauh biawak ini berenang. Mungkin sekitar 100 meter jaraknya.

Sambil menunggu hujan yang masih terus turun, kami memutuskan untuk berteduh dulu di dalam kapal motor. Bapak tukang perahu yang mengemudikan kapal motor menawarkan kami untuk memasak mie instan dan memasak kopi di dalam kapalnya. Lantai-lantai kayu kapal ternyata bisa dilepas satu persatu. Dan di bawahnya ada seperangkat alat masak berupa panci, wajan, dan kompor, lengkap dengan minyaknya.

“Wah kalau tahu begini, kita bawa kopi aja dari rumah,” kata Nasrudin kawan saya.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, hujan sedikit mereda. Nasrudin mengajak kami semua untuk jalan-jalan keluar pulau. Ditengah udara dingin dan hujan yang merintik, kami mulai menjelajah Pulau Pinus Dua.

Desa-desa sederhana yang dilatarbelakangi oleh hutan pinus menjadi pemandangan awal kami. Desa ini bernama Desa Tiwingan Bawah. Di sini, hampir semua terbuat dari kayu. Meskipun begitu, beberapa buah antena parabola berdiri kokoh diantara rumah-rumah sederhana ini. Canggih juga!

Rute kami selanjutnya memasuki hutan-hutan pinus. Jalannya agak menanjak. Suasana sangat sunyi dan asri. Uniknya, di sini saya tak mendengar kicauan burung sama sekali. Suasana benar-benar hening. Cocok untuk menyepi.

Hutan pinus ini tak begitu luas tapi cukup rindang. Suasana hutannya mirip film-film fantasi versi Hollywood. Pohon pinus yang menjulang tinggi, semak-semak lebat, dan sinar yang temaram. Mirip adegan di film Bridge to Terabithia.

Lima menit melintasi hutan pinus, kami tiba di pinggir pulau yang menghadap ke sebuah daratan di seberang. Sebuah jembatan kayu yang cukup panjang terlintas di pinggir pulau ini. Serunya, jembatan kayu ini tingginya mencapai 10 meter dan bukan merupakan jembatan gantung. Dengan lebar sekitar 1,5 meter dan panjang 200 meter, menyeberang di jembatan ini akan menjadi pengalaman tak terlupakan!

Kawan-kawan yang lain tak menyia-siakan momen ini untuk bergaya di depan kamera. Sesekali gaya kami terganggu oleh warga lokal yang berlalu lalang. Karena cukup sempit, kami harus minggir dulu dan mendahulukan warga yang akan lewat. Selain itu, goyangan jembatan juga membuat tantangan tersendiri untuk berpose di ketinggian 10 meter di atas permukaan danau.

Di seberang jembatan, kami kembali menemui sebuah desa. Di sini saya hanya bisa mendengar suara mesin perahu motor para nelayan setempat dan suara anak-anak kecil yang sedang bermain-main. Namanya Tiwingan Baru, sebuah desa sederhana tanpa jalanan aspal. Tak ada kendaraan bermotor yang saya temui disini.

Berbeda dengan desa sebelumnya, di sini kami jarang menemui antena parabola. Yang ada hanya ada rumah-rumah kayu dan sebuah warung. Karena cuaca dingin, kami memutuskan untuk menikmati segelas teh manis di warung tersebut. Bersama kami ada para orang tua yang sedang asyik menikmati secangkir kopi sambil menghisap sebatang rokok di depan rumah.

Setelah hujan benar-benar berhenti, kami melanjutkan trekking di desa ini. Sebuah tangga menuju ke bukit kami coba naiki. Pemandangan dari atas sebenarnya cukup indah, namun karena banyaknya pepohonan, saya jadi sulit untuk melihat pemandangan. Di atas bukit ini terdapat sebuah sekolahan dengan kondisi yang memprihatinkan. Saya sempat terkejut ketika kawan saya, Heri, menemukan sebuah buku absen murid di salah satu kelas. Disitu tercatat hanya ada empat orang murid di kelas itu.

Saya jadi ingat kisah novel dan film Laskar Pelangi. Dan saya berharap, posisi bangunan sekolah yang terletak di atas bukit dan menjadi bangunan tertinggi di desa ini menjadi lambang dari tingginya cita-cita anak-anak Tiwingan Baru dalam mengejar pendidikan.

Meski cukup banyak rumah yang terdapat di desa ini, namun siang itu kami tak banyak melihat warga yang berkeliaran. Mungkin karena gerimis atau memang kondisi desa yang sepi. Perjalanan kami lanjutkan dengan menuju jembatan yang tadi kami lewati. Namun kali ini, atas usul Heri, kami coba menjelajah bagian bawahnya. Sebuah dataran hijau dengan tanah yang agak lembek.

“Biasanya bagian daratan ini tergenang air danau,” kata Nasrudin yang sudah pernah ke tempat ini.

Saya jadi mengerti kenapa kondisi tanahnya begitu lembek seperti lumpur. Di bagian timur, saya melihat sebagian tanahnya berwarna coklat kemerahan seperti tanah liat. Kontras sekali dengan latar belakangnya yang serba hijau dan penuh hutan.

Pulau Pinus Satu

Puas melakukan trekking di desa Tiwingan Baru, perjalanan kami lanjutkan menuju Pulau Pinus Satu dengan menggunakan kapal motor. Di kejauhan, bukit-bukit dari Pegunungan Meratus terlihat hijau dan sebagian diselimuti kabut. Banyak sekali pulau-pulau kecil yang kosong di Riam Kanan. Beberapa bahkan hanya berupa daratan kecil yang menyembul ke atas danau.

Kapal motor yang bisa disewa pengunjung untuk berkeliling Riam Kanan.

Kapal motor berhenti di sebuah pulau yang terdiri dari banyak pohon pinus. Pulau Pinus Satu memang tak seperti Pinus Dua yang didiami masyarakat pedesaan. Pinus Satu lebih sepi dengan kontur tanah yang lebih berbukit-bukit. Kapal merapat di sebuah dermaga yang kelihatannya tak terurus. Banyak kerusakan yang terlihat pada bangunan kayu itu.

Di tengah pulau juga terdapat sebuah bekas bangunan warung yang dalam kondisi tak terawat. Itulah satu-satunya bangunan yang saya temui di tengah pulau ini.

Di sekitar pulau banyak terdapat daratan-daratan kecil yang mengitari Pulau Pinus Satu. Kami juga sempat singgah di daratan-daratan kecil ini untuk sekedar berfoto. Sayang, sangat sedikit turis yang berkunjung ke kawasan ini. Padahal daerah ini begitu cantik. Dan menjelang sore, kami memutuskan untuk kembali pulang.

Sepanjang perjalanan kami hanya bertemu dengan perahu-perahu kecil milik masyarakat desa setempat. Kebanyakan dari mereka sedang memancing ikan. Sebuah kapal motor yang sedang membawa penumpang dari penduduk lokal tampak melambai-lambaikan tangan pada kami. Sayapun tak menyia-nyiakan momen ini. Kamerapun langsung terarah ke mereka.

Ada kenangan dan keunikan tersendiri ketika meninggalkan tempat ini. Sebuah tempat yang menyimpan begitu besar potensi wisata namun tak banyak yang mempedulikannya. Tak banyak yang memperhatikan bahwa Danau Riam Kanan sebenarnya merupakan salah satu peluang besar di bidang pariwisata.

Catatan dari danau

Menurut cerita yang saya dapat, kedalaman Riam Kanan ini mencapai 40 meter. Di tengah danau terdapat pulau yang paling sering dikunjungi wisatawan, yaitu Pulau Pinus Satu dan Pulau Pinus Dua. Di kedua pulau ini Anda dapat menyaksikan sisa-sisa rumah yang dulu digunakan oleh para pekerja pembuat bendungan yang berasal dari Jepang.

Dibangun tahun 1976, Riam Kanan tidak saja berfungsi untuk pembangkit listrik di Kalimantan Selatan, tapi juga untuk fungsi pengairan, pertambakan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan pariwisata tentunya. Bagi para pecinta trekking, kondisi alam di Pulau Pinus dapat dijadikan ajang pelampiasan hobi.

Dengan menyewa kapal motor seharga Rp 100.000 hingga Rp 150.000, Anda bisa menikmati keindahan pulau-pulau di Riam Kanan, seperti Pinus Satu dan Pinus Dua.

Lokasi wisata Riam Kanan ini berjarak sekitar 60 kilometer dari Banjarmasin. Waktu tempuhnya, dengan menggunakan kendaraan pribadi, sekitar satu jam. Bila ingin menggunakan kendaraan umum, Anda bisa menggunakan bis umum dari Banjarmasin menuju Martapura. Dari situ perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan angkot jurusan Riam Kanan dengan biaya sekitar Rp 10.000.

Hutan-hutan pinus yang masih asri, suasana sepi dan sambutan masyarakat desa yang ramah akan menjadi kenangan sendiri saat bertualang di Riam Kanan. Sayangnya, hingga saat ini tiada satupun penginapan di daerah Riam Kanan. Pengunjung biasanya datang langsung dari Banjarmasin atau Martapura.

Teks dan foto: Yudasmoro Minasiani
Yudasmoro Minasiani adalah mantan manajer restoran di Jakarta yang kini menjadi freelance travel writer.

(154)

Yudasmoro Minasiani Sebelum terjun dalam dunia travel writing sepenuhnya, ia sempat bekerja sebagai seorang manager di restoran cepat saji di Jakarta. Namun karena kecintaan pada dunia traveling dan jurnalistik, pria yang hobi menulis, naik sepeda, dan menyantap sate kambing ini pun akhirnya memutuskan untuk sepenuhnya menjadi travel writer. Karya-karya lainnya dapat dilihat di www.mahavishnu8.multiply.com.

Comments with Facebook

Comment(7)

  1. Saya harap jalan ke Riam Kanan diperbaiki dengan serius. Untuk mempermudah para pengunjung datang dan pegi ke Riam Kanan. Dan saya harap juga dinas parawisata menjadikan Riam Kanan sebagai salah satu tempat tujuan wisata Kalimantan Selatan. Karena saya lihat Riam Kanan memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi tujuan wisata andalan Kalimantan Selatan. Bagi para pencinta alam, mancing, ketenangan, dan berburu khususnya hama babi hutan juga bagi para peneliti keanekaragaman hayati. Untuk hal-hal di atas sebaiknya mendiskusikannya dengan penduduk setempat khususnya tukang kelotok karena mereka sangat mengetahui kondisi Riam Kanan. Sekian dan salam kenal dari saya kepada para pencinta alam Riam Kanan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Kami juga sering ke Riam Kanan. Tapi untuk memancing, dan pemandangannya menurut kami jauh lebih bagus dari Pulau Pinus Satu dan Dua. Dan suara binatang hutan masih sangat banyak. Seperti burung-burung toke dan serangga-serangga hutan. Dan kadang-kadang berjumpa dengan monyet. Dan kami juga pernah menemukan beberapa kerangka babi hutan, mungkin bekas hasil buruan kelompok pemburu. Nama daerah-daerah yang pernah kami kunjungi untuk memancing adalah: Haui, Hawin, Pulau Jingah, Teluk Naga, Sabak, Tuhin, Jambunau, Ambuluh. Sebaiknya kalau memancing pada saat musim kemarau karena ikannya tidak terlalu menyebar, dan ikan yang mudah dipancing adalah nila adungan dan kalui atau gurame. Umpannya adalah udang kecil, cacing anak samut dan anak tawon dan anak lebah dan umpan palsu khusus memancing adungan. Tapi anda juga harus membawa umpan tabur berupa anak semut ukuran kecil. Dengan harga beli sekitar 10.000 rupiah dan umpan tabur yang lain adalah bama atau pakan ayam. Dan sebaiknya anda meminta tukang kelontong untuk mengantar ke lokasi yang banyak ikan seperti yang anda ingin pancing.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Aduh senangnya temppat kelahiranku dipublikasikan. Aku baru kemaren datang dari Riam Kanan.
    Eh tau di Riam Kanan ada namanya UNUKAN. Tuh sebuah wisata orang desa situ. Tepatnya di desa paau.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Sekitar 10 tahun yang lalu, kami sempat ke sana bersama teman-teman dari UnLam untuk explore tropical rain forest-nya Riam Kanan, lebih kurang 3 malam. Di sisi mananya saya agak lupa, yang jelas bukan sisi waduknya. Ketemu beruang madu, sempat kena tawon segede jempol masing-masing kami 2-3 ekor, pohon-pohon lebar masih banyak ditemui dan sempat bertemu aliran sungai yang ujungnya (kami berada di atas) air terjun berundak-undak ke bawah dengan kolam-kolam kecil & dalam yg siap diterjuni … wuiih surga dunia lah. Dan satu lagi, banyak ikan buat di pancing.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. To mas Daeng Lalo:

    Di Riam Kanan ini belum ada penginapan. Biasanya wisatawan yang ingin bermalam hanya menggunakan tenda. Atau Anda bisa saja menginap di rumah-rumah di tepian danau, atau bahkan rumah apung yang ada di sekitar keramba ikan milik nelayan. Pasti seru banget tuh…

    Danau Riam Kanan sangat luas, cantik buat foto-foto dan mengagumi lanskap alam.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Ada gak penginapan standar di Riam Kanan? Saya tertarik juga datang menikmati malam di Riam Kanan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Syukurlah tulisan yang bagus ini masuk di Wisataloka. Saya jadi bangga telah menjadi salah satu anggota trip ke Danau Riam Kanan ini.

    Waktu ideal untuk mengunjungi Riam Kanan adalah sekitar bulan Maret hingga Mei karena debit air di Riam kanan sangat dalam. Sehingga pemandangan menjadi lebih bagus. Airnya lebih berwarna kehijauan.

    Salam aja buat Mas Yudasmoro, kapan-kapan kita jalan bareng lagi menjelajah bumi Kalimantan Selatan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *