Home Lancong Sunrise dan Yoga di Borobudur
3

Sunrise dan Yoga di Borobudur

38
3
Lotus Pose
Lotus Pose. Foto-foto: Dokumentasi Hera Diani.

Yoga di studio atau di tempat kebugaran adalah sesuatu yang lazim dilakukan. Tetapi yoga di tempat terbuka, apalagi semegah dan seeksotis Candi Borobudur, yang berada di Jogjakarta, tentunya akan terasa menjadi sesuatu yang luar biasa.

Sebuah artikel di majalah pariwisata tentang beryoga saat matahari terbit menghantarkan saya mengunjungi kembali Candi Borobudur. Sebagai orang yang rutin beryoga sejak setahun terakhir, saya sangat bergairah membaca artikel tersebut. Melakukan yoga di rumah saja bisa membangkitkan energi, apalagi jika di tempat indah dan bersejarah, pikir saya.

Guru yoga saya menyambut baik ide saya dengan mengatakan bahwa melakukan yoga di luar ruangan – dengan syarat udaranya bersih, pemandangannya indah dan tidak ada gangguan – akan memberikan rasa dan energi yang berbeda.

“Anda akan lebih merasa segar karena udaranya lebih bersih, bukan yang telah disirkulasi ulang. Anda juga akan merasa bebas karena tidak terkungkung dinding,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa yoga merupakan suatu disiplin yang mengajak pelakunya mempelajari diri sendiri dan lebih dekat dengan Ilahi, apa pun bentuknya itu.

Half-bound Lotus Stretch

“Di tempat yang dianggap suci atau yang memiliki nilai kehidupan spiritual dan sejarah, ada semacam energi, atau paling tidak pengalaman spiritual, yang bisa didapatkan di situ,” ujar sang guru yoga.

Jam buka resmi Candi Borobudur bagi pengunjung adalah pukul 6 pagi, tetapi pengunjung yang ingin datang lebih pagi bisa mendapatkan tiket “Borobudur Sunrise”  seharga Rp 250,000 di Hotel Manohara yang berada di kompleks Candi. Pegawai hotel akan menunjukkan jalan setapak menuju Candi yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari lokasi hotel dan memberi Anda lampu senter kecil sebagai penerang jalan.

Dengan memegang lampu senter di tangan dan menyandang alas yoga (yoga mat) di bahu, saya memasuki wilayah Candi. Saat itu jam menunjukkan pukul 5.10 dini hari. Langit masih agak gelap dan suasana terasa sunyi.

Setelah melewati pemeriksaan oleh dua penjaga keamanan, saya menaiki tangga sampai ke puncak Candi. Semula saya berniat melakukan yoga tepat di sana. Namun, setiba di puncak, disana telah tampak sekitar 10 orang wisatawan asing mengisi sisi-sisi pelataran untuk mendokumentasikan keelokan matahari saat terbit di ufuk Timur.

Daripada menjadi tontonan para wisatawan asing itu, saya pun memutuskan untuk berputar dan mencari tempat yang lebih sepi. Setelah berkeliling dengan cepat, saya menemukan satu lokasi yang berada satu tingkat tepat di bawah puncak Candi. Tempat itu menyerupai balkon, berada di pojokan dan menghadap ke arah Timur. Disisi kanan dari “balkon” tersebut, tampak keasrian pemandangan sebuah hutan kecil. Sangat indah.

Saya pun segera melakukan yoga Ashtanga, sebuah ajaran yoga yang lebih dinamis dengan satu seri gerakan tertentu. Dari salah satu titik di Candi Borobudur inilah saya merasakan sesuatu yang lain: alam yang terbuka, masih hijau dan indah, ditambah udara yang bersih, membuat tubuh dan pikiran saya terasa segar dan berenergi dari awal sampai akhir.

Sambil melakukan pose yoga, saya menyaksikan langit mulai berubah dari warna biru tua menjadi lebih muda disertai semburat kuning dan jingga cahaya matahari. Hutan kecil yang terletak di sebelah kanan saya masih diselimuti kabut tipis, sementara di kiri saya adalah mahakarya agung yang tak lekang oleh waktu. Di kejauhan sana tampak pula Gunung Merapi yang berdiri dengan kokoh.

Warrior Pose

Tingkat ketenangan, kedamaian dan energi yang saya dapatkan sesudah itu sangat luar biasa, berlipat-lipat dari latihan yoga rutin yang biasa dilakukan di rumah atau di studio. Hormon endorphin yang menciptakan sensasi kegembiraan mengalir deras di otak, menghadirkan rasa suka cita dan kesenangan yang bertahan sepanjang hari, bahkan sampai akhir minggu.

Agar aktivitas yoga terasa lebih nyaman dan khusyuk, pastikan untuk membawa alas yoga yang cukup tebal dan “anti slip”, sebab kondisi lantai di Candi berundak-undak dan tidak rata. Selain itu, embun di pagi hari menciptakan lapisan lembab pada matras. Tidak semua gerakan dapat dilakukan mengingat kontur yang tidak rata tadi.

Ada yang agak saya sesali, yaitu kedatangan saya ke Candi Borobudur bertepatan dengan akhir minggu yang panjang, sehingga turis pun tampak berjejal sejak pagi buta.  Bagi Anda yang menginginkan suasana yang jauh lebih tenang,  sebaiknya datanglah pada hari biasa atau mungkin lebih pagi lagi, sehingga konsentrasi Anda tidak akan terpecah oleh para turis yang sewaktu-waktu melintasi wilayah Anda.

Setelah menyelesaikan latihan, saya merapikan alas yoga dan berjalan berkeliling Candi, menyerap lebih banyak lagi energi sambil mengagumi kemegahan dari sebuah mahakarya tangan manusia ini.

(38)

Hera Diani Hera Diani adalah praktisi Yoga dan mulai mendalami aktivitas ini sejak dua tahun terakhir. Saat ini Hera bekerja di The Jakarta Globe sebagai reporter di desk khusus investigasi. Sebelumnya, dia sempat juga bergabung dengan harian The Jakarta Post. Beberapa tulisan feature terbaiknya pernah pula dimuat dalam media-media internasional.

Comments with Facebook

Comment(3)

  1. Aku kira patung. Abis mirip. Cuma agak tembem…:p

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Asal nggak merusak candi ya mbak, kasihan arca-arcanya..

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: -1 (from 1 vote)
  3. Keren nih, tambah tenang …

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *