Home Geokultur Mitologi di Mandeh
1

Mitologi di Mandeh

31
1
Biru dan tenangnya lautan Mandeh.
Biru dan tenangnya lautan Mandeh. Foto-foto: Lenteratimur.com/Arif Budiman.

Bukit hijau. Tepian pantai landai. Laut membiru jernih dengan ombak bergulung kecil. Inilah wajah Mandeh, sebuah kampung yang mengandung mitologi, kuliner, sekaligus pesona bahari yang tak dapat dijumpai di daerah lain.

Mandeh terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (lihat Nagari Sungai Pinang). Jika memasuki kampung yang memiliki luas sekitar 8.632 hektar ini, maka akan tampak jejeran rumah rumah penduduk yang dikelilingi oleh air laut dan hutan bakau (mangrove).

Ada pantun terkenal untuk melukiskan eksotika kampung Mandeh.

Pulau setan dilaman mandeh
Tampak nagari sungai Nyalo
Bagai intan dipaluik ameh
Loyak dituruik nak dibawo

(Pulau setan di halaman Mandeh
Terlihat nagari sungai Nyalo
Seperti intan dibalut emas
Layak dikunjungi untuk dibawa)

Kampung Mandeh

Selain pesona alamnya, kampung Mandeh dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai kawasan keramat. Menurut legenda rakyat, kampung ini dipagari oleh tigo paga tampek (tiga bukit batu). Ketiga bukit ini berfungsi sebagai pelindung bagi masyarakat setempat.

Jadi, jika bertandang ke kampung Mandeh, ada sejumlah perilaku yang tidak dianjurkan untuk dilakukan. Misalnya adalah jangan melakukan perbuatan jahat, seperti mencuri. Sebab si pelaku pastilah tidak akan tahu jalan keluar dari kampung Mandeh. Selain itu, ketiga bukit ini juga menjadi tanda bagi masyarakat untuk melihat gejala alam. Jika ada gempa, badai, atau air laut pasang, bukit ini pasti mengeluarkan bunyi pada malam harinya. Bunyi yang terdengar adalah seperti batu mau jatuh yang berderik-derik. Dan jika ada pendatang yang salah bicara, dengan maksud jahat, jangan harap akan lepas dari ganguan makhluk halus. Karena, itu jika masuk kawasan ini, jangan lupakan kesantunan dan keramahan.

Tak hanya dari tiga bukit itu, masyarakat juga turut dilindungi oleh harimau. Harimau tersebut akan masuk ke kampung saat melihat harimau dari daerah lain juga masuk dengan niat jahat, seperti memakan ternak atau menakuti warga.

Harimau yang menjadi pelindung ini sering menampakkan wujudnya kepada masyarakat. Namun, seperti dituturkan warga, harimau tersebut juga datang untuk diobati. Kadang, harimau itu sakit perut, berpanu, dan luka-luka.

“Dia itu cuma datang saja ke rumah penduduk dengan tenang tanpa ada gerak mengganggu. Itu menandakan harimau tersebut membutuhkan pertolongan. Nah, penduduk di sinilah yang mengobati keluhannya. Kadang saat diobati harimau tersebut tak terganggu jika dipegang atau dielus-elus warga”, tutur Uni Is, salah seorang warga kampung Mandeh.

Selain mitologi, Mandeh juga memiliki asal usul penamaan yang menarik. Konon, penamaan Mandeh dimulai saat seringnya para pedagang berdatangan ke daerah ini. Namun, saat ke kampung, para pendatang itu tidak menemui kedai-kedai nasi. Untuk mengakalinya, mereka pun meminta makanan ke seorang Ibu di setiap rumah penduduk.

Nah, Ibu inilah yang dalam bahasa Minang dinamakan dengan sebutan “Mandeh”. Artinya adalah seorang wanita lajang dengan perilaku mulia yang dengan ikhlas memberikan makanan kepada para pendatang.

Untuk mengabadikan kebaikannya, para pendatang ini memberikan nama kampung tersebut dengan nama Kampung Mandeh. Sejurus, ini mengindikasikan sebuah kampung dimana akan ditemui keelokan seorang Ibu. Dan hingga saat ini keadaan itu masih terjadi. Setiap wisatawan datang, makannya pasti di rumah seorang Ibu.

<i>Tampek</i> atau bukit batu menjadi pelindung masyarakat Mandeh
Tampek atau bukit batu menjadi pelindung masyarakat Mandeh

Makanan yang ditawarkan rumah mandeh/Ibu juga menarik alias tak dapat dijumpai di tempat-tempat lain. Diantara makanan khas tersebut adalah Rendang Lokan. Rendang ini terbuat dari kelapa yang dicampur dengan daging lokan. Jenis ini berbeda dengan rendang biasa yang dimasak dengan daging sapi, kambing, atau itik.

Selain Rendang Lokan, ada juga Kalio Timo dan Kalio Lokan yang tak kalah sedap. Makanan dengan sajian utama Timo laut ini dimasak berkuah. Dan jika disantap di tepi pantai Mandeh, kenikmatannya menjadi berlipat.

Pesona Mandeh membuat kampung ini dijuluki sebagai The Paradise of The South. Mandeh yang kokoh dengan gugusan pulau-pulaunya membuatnya bagaikan terapung di permukaan laut.

(31)

Arif Budiman Arif Budiman lahir di Minangkabau, Sumatera Barat. Saat ini ia beraktivitas sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, angkatan 2008. Pria yang lahir pada 1990 ini sangat berminat pada jurnalisme. Dan hal yang paling ia sukai adalah melakukan peliputan; bergumul dengan fakta-fakta di lapangan. Ia pernah menjadi reporter pada majalah sekolah P’Mails yang diterbitkan oleh koran terbesar di Padang (Padang Ekspres Group) dan penulis di situs resmi dinas pendidikan kota Padang, Selain itu, ia juga pernah melakukan peliputan dalam kegiatan Festival Seni Internasional 2008 di Yogyakarta. Kini ia adalah perwakilan sekaligus desainer LenteraTimur.com di Yogyakarta.

Comments with Facebook

Comment(1)

  1. Saya senang dengan daerah yang begini. Eksotis, damai, ada mistisnya. Mudah-mudahan warga Mandeh akan tetap bangga dan terus menjaga Mandeh. Selama dunia ada, Mandeh harus tetap ada.
    Salam.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *