Home Sejarah Melabuh di Museum Bahari
4

Melabuh di Museum Bahari

160
4
Museum Bahari. Foto-foto: Siti Nurdina

“Pulau pandan jauh di tengah, pulau Madura ujung Jawa. Ahai, jika berhenti detak jantungnya, di dasar laut liang kuburnya” Sepenggal syair lagu nelayan selat Madura itu terukir di plakat yang tertempel di salah satu dinding ruangan dalam museum Bahari.

Panas yang menyengat di bulan Juli tidak menyurutkan niat saya mengunjungi Museum Bahari, Jakarta Utara. Untuk menikmati suasana, saya pun menyewa sepeda dari stasiun kereta api Kota, yang tak jauh dari museum, untuk berkeliling. Setiba di depan Museum Bahari, sunyi melanda saya. Sejenak, saya membayangkan keriuhan yang dulu pastilah terjadi setiap hari di dalam bangunan tua ini. Dan kisah saya kali ini bermulai dari gerbang beton Museum Bahari.

Sejarah Museum Bahari erat kaitannya dengan pelabuhan Sunda Kelapa. Berada dibawah kekuasaan Persatuan Dagang Belanda di Hindia Timur atau Vereenigde Oost-Indische Compagni (VOC), pelabuhan ini berkembang sangat pesat sebagai pelabuhan transit internasional, dan menjadikan Batavia menjadi bandar terpenting di Asia. Di sini kaum kolonial sibuk mengatur dokumen ribuan barang dagangan, perhitungan, pelaporan, dan pemeriksaan sebelum diteruskan ke gudang dan kantor-kantor di sekitar Kasteel Batavia (kini Pasar Ikan). Untuk itu, dibangunlah sebuah gudang tempat penyimpanan ribuan macam barang dagangan, termasuk rempah-rempah, sebelum didistribusikan ke dalam kota maupun luar negeri.

Gudang ini merupakan bagian dari kompleks Westzydsche Pakhuizen atau kompleks gudang sebelah barat Sungai Ciliwung. Gudang yang dibangun pada 1652 ini mengalami beberapa kali pertambahan ruang hingga tahun 1774. Setelah masa Kemerdekaan, gudang ini menjadi kantor telekomunikasi. Dan pada 17 Juli 1977 ia diresmikan menjadi Museum Bahari.

Masuk ke dalam, di sebelah kanan, terdapat sebuah ruangan besar yang memuat banyak kisah tentang kota dan pelabuhan-pelabuhan di nusantara. Kisah-kisah itu ditulis di papan-papan besar dan tergantung di sepanjang ruangan. Kisah Sunda Kelapa, Jayakarta, Tanjung Priok, dan jenis-jenis kapal tradisional dari berbagai daerah ada di sini. Yang paling menarik perhatian saya adalah replika kapal-kapal dari berbagai daerah.

Kapal Van Deuyfken, misalnya. Kapal ini merupakan kapal layar milik VOC yang pertama kali datang ke Indonesia pada 1595. Selain menjadi kapal suplai, kapal ini juga berfungsi sebagai kapal penjelajah dan perintis. Kapal yang datang untuk mencari rempah-rempah ini semula tiba di Banten. Tapi karena tidak disambut baik di Banten, Belanda meminta izin penguasa Jayakarta untuk membangun pusat perdagangan dan benteng. Dibawah kepemimpinan Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal VOC, Belanda akhirnya menyerbu kota Islam Jayakarta dan menamainya Batavia pada tahun 1619. Batavia menjadi ibukota administrasi dan militer “kekaisaran niaga” VOC dan menjadikannya sebuah kota yang dikenal sebagai “Ratu dari Timur”.

Replika Kapal Pinisi, Kapal Majapahit dan Kapal Lancang Kuning (<i>dari atas ke bawah</i>)
Replika Kapal Pinisi, Kapal Majapahit, dan Kapal Lancang Kuning (dari atas ke bawah).

Selanjutnya ada kapal Pinisi yang merupakan kapal tradisional rakyat Bugis. Kapal ini terbuat dari kayu ulin, bitti, na’massa, mangga, dan cembaga. Pembuatan Pinisi dilakukan di sebuah galangan kapal sederhana yang disebut bantilang. Kapal ini panjangnya bisa mencapai 37 meter dengan lebar 8 meter, tinggi layar kira-kira 12 meter, dan memiliki berat sekitar 120 ton.

Kapal Patorani, yang berasal dari Sulawesi Selatan, tak kalah menarik. Pada abad ke 17, kapal ini digunakan oleh armada Kerajaan Goa dan berfungsi sebagai kapal nelayan, khususnya untuk menangkap ikan terbang. Kapal yang memiliki layar yang berbentuk segi empat dan dilengkapi sebuah tiang layar besar ini banyak dijumpai di perairan Galesong Kabupaten Takalar.

Masih dari Sulawesi Selatan, ada kapal berdaya angkut besar bernama Padewakang yang banyak ditemukan di pelabuhan rakyat Pautere, Makasar. Kapal ini berfungsi tidak saja sebagai kapal niaga dan kapal nelayan, tetapi juga sebagai alat transportasi antar pulau. Pada masa Islam, kapal ini digunakan untuk mengangkut komoditas perdagangan hingga ke pantai utara Australia.

Tak jauh dari kapal-kapal Sulawesi, terlihat kapal bernama Cadik Borobudur. Kapal ini dibuat berdasarkan relief yang tertera di Candi Borobudur. Selain menjadi kapal niaga, Cadik Borobudur juga melambangkan kejayaan bahari pada masa Kerajaan Sriwijaya. Pada 2002, dibuatlah replika Cadik Borobudur untuk menelusuri kembali Jalur Kayumanis (The Cinnamon Route) dari Jakarta menuju Ghana Afrika Selatan dengan jarak tempuh sekitar 11.000 mil laut dalam kurun waktu 6 bulan.

Di samping Cadik Borobudur, ada kapal Golekan Lete yang berasal dari Madura. Kapal ini kini banyak ditemui di hampir semua pelabuhan besar pantai Utara Jawa-Madura, terutama di Pelabuhan Kali Mas, Surabaya, Jawa Timur. Kapal yang berfungsi sebagai kapal niaga jarak jauh ini digunakan untuk mengangkut balok dan papan kayu dari Kalimantan menuju ke berbagai kota di Jawa dan Madura. Dan dengan kapal yang sama, kapal kembali ke Kalimantan dengan mengangkut garam, beras, kacang kedelai, atau jagung.

Di sebelah Golekan Lete, ada kapal Majapahit yang dibuat berdasarkan relief yang tertera di dinding-dinding Candi Panataran di Jawa Timur. Kapal ini menunjukkan kejayaan bahari Kerajaan Majapahit yang pada abad 13-15 Masehi hampir menguasai seluruh wilayah Nusantara. Tiruan kapal ini diberi nama Damar Segara yang berlayar dari Semarang menuju Thailand.

Selain Sulawesi dan Jawa, ada juga kapal yang berasal dari Sumatera yang bernama Kapal Nade. Kapal ini merupakan armada pelayaran yang berfungsi sebagai kapal niaga jarak jauh. Daerah pelayarannya meliputi wilayah Sumatera, Selat Malaka, dan perairan laut Kalimantan.

Tak jauh, terlihat pula kapal bernama Lancang Kuning yang berasal berasal dari Melayu. Kapal ini dulu digunakan sebagai kapal resmi sekaligus lambang kekuasaan kerajaan Siak Sri Indra Pura. Ada cerita bahwa kapal ini adalah milik dari seorang putri. Jika sedang berlayar, sang putri selalu didampingi oleh pengawal dan pengayuh yang berpakaian kuning. Saat ini Lancang Kuning dijadikan maskot Pemerintah Daerah Provinsi Riau.

Sesampainya ditangga, saya naik ke lantai dua. Di ujung tangga atas, ada sebuah lemari kaca yang memajang sebuah replika kapal milik Belanda yang sangat indah, khas Eropa. Tiang-tiang tingginya lengkap dengan layar yang tidak mengembang sepenuhnya. Pikiran saya melantur ke kisah Peter Pan dan Kapten Hook, yang sedang berkelahi diantara tiang-tiang layar kapal milik sang Kapten.

Di dinding ruangan ini, terdapat banyak cerita tentang VOC. Mulai dari kisah kehidupan di atas kapal VOC, perjalanan Bontekoe, usaha monopoli terhadap perdagangan di Asia, orang Belanda di Indonesia, kantor VOC, dan masih banyak lagi. Yang sangat menarik perhatian saya adalah keterangan mengenai perjalanan Bontekoe. Cerita para pelaut mengenai perjalanan jauh mereka sangat mempengaruhi khayalan orang Belanda. Seringkali buku catatan harian seorang nahkoda diterbitkan dan dibaca oleh orang. Salah satunya yang terkenal dari perjalanan VOC adalah dari Nahkoda Bontekoe. Pada Desember 1618, diceritakan kapal sang nahkoda berangkat dari Hoorn, Belanda. Tapi ketika sampai di Selat Sunda, sebuah tong berisi brendi terbakar. Api menjalar ke mesiu dan kapal pun meledak. Nahkoda dan sebagian awak kapal yang selamat kemudian melakukan perjalanan yang sangat berat sebelum tiba di Batavia. Buku perjalanan Bontekoe ini sangat terkenal sampai sekarang dan sudah berkali-kali cetak ulang.

Ketika turun ke lantai satu, saya lalu pergi ke belakang bagian museum. Ada bangunan besar memanjang bertembok putih, berpintu kayu coklat, dan berjendela banyak. Ketika saya masuk, ternyata di ruangan ini tersimpan kapal-kapal besar dari daerah Papua. Kapal-kapal ini berukir dan diberi sentuhan berwarna-warni cerah di badan kapal. Saya merasa, pemisahan kapal-kapal Papua ini dengan kapal-kapal lain dikarenakan ukurannya yang jauh lebih besar.

Yang paling mengesankan adalah ketika saya melihat sebuah kapal yang panjangnya tidak kurang dari 15 meter. “Jayapura 02”, demikian nama itu terpahat di badan kapal kayu yang berwarna coklat tua. Di bagian hulunya terpancang patung Ayam Jago dari kayu. Tapi sayang, saya tak melihat ada keterangan apapun tentang kapal-kapal papua ini. Tapi itu tak mempengaruhi fantasi saya, bahwa sayalah yang sedang mengarungi samudra luas dengan kapal cantik ini.

Kapal Papua
Kapal Papua.

Sudah puas saya mengelilingi Museum Bahari. Museum ini dapat dikunjungi setiap hari Selasa sampai Minggu mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Cukup membayar dua ribu rupiah saja, Museum Bahari terbuka lebar untuk Anda. Di sini Anda dapat bermain dengan imajinasi, tentang bagaimana menjadi seorang pengembara di lautan yang luas dengan kapal-kapal yang kokoh.

(160)

Siti Nurdina Penulis lepas di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(4)

  1. Museum bahari di bangsa maritim, isinya 95% replika saja dan hanya secuil mengoleksi jenis2 perahu nusantara. Di Museum Osaka Jepang, ada perahu Bajau asli, juga perahu Indramayu asli. Di tempat lain, masih di Jepang, ada Pinisi asli dan perahu kuno Mandar yang juga asli. Di Indonesia di mana bisa menemukan Pinisi asli??????

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Museum Bahari harus jadi pelita pada generasi masa depan mengenai penyelamatan sejarah bahari bangsa Indonesia. Kami dari KON TIKI RC Yacht-modelling Group akan coba membangun kembali jiwa bahari pada semua lapisan generasi muda dengan memperkenalkan jenis perahu layar yang kami rencang dan buat sendiri. Pada 1978 kami pernah main 2 jenis perahu layar di Ancol, 2007 di danau sunter dan 2009 di danau lentah kota Rangkasbitung.
    Mari kita ikut semangat leluhur kita PELAUT TANGGUH.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 4.0/5 (1 vote cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  3. Saya butuh info untuk memasarkan karya kerajinan replika perahu layar tradisional sesuai daerah asal.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Museum bahari apa ada cerita tentang kapal dari kota Bagansiapiapi yg pernah menjadi kota penghasil ikan terbesar kedua dulu dan di sana belanda pernah bermukim juga tampak juga ada pelabuhan tuanya apa bisa ditampilkan di web wisataloka?

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *