Home Lancong Menyusuri Kota Tua
8

Menyusuri Kota Tua

23
8
Bangunan peninggalan Belanda kini menjadi pusat sejarah bahari. Foto-foto: Santi Irawati.
Bangunan peninggalan Belanda kini menjadi pusat sejarah bahari. Foto-foto: Santi Irawati.

Cuaca Jakarta begitu cerah dan terik hingga terasa menusuk kulit. Namun, teriknya sang surya siang itu tidak menghalangi masyarakat untuk mengunjungi Batavia Art Festival yang diselenggarakan di jantung Kota Tua, tepat di pelataran Museum Fatahillah. Perayaan yang digelar sebagai bentuk kerja sama antara  Pemerintah Kota DKI Jakarta dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ini  berlangsung sehari sebelum HUT DKI, yang jatuh pada setiap tanggal 22 Juni.

Hari itu pemandangan sungguh berbeda. Pelataran Museum Fatahillah mendadak disulap menjadi arena festival. Tepat di depan pintu utama Museum Fatahillah, berdiri kokoh panggung utama yang di sekitarnya berjejer tenda-tenda.

Rasa penasaran pada Batavia Art Festival menggelitik saya untuk terus menelusuri sudut-sudut area festival. Dan saya menemukan sederetan sepeda onthel di salah satu pojokkan Fatahillah, tepat di samping sebuah café yang masih mempertahankan gaya Jakarta tempo dulu: Café Batavia.

Setidaknya tiga puluh ojek onthel berkumpul menjajakan sepedanya pada para pengunjung festival. Mereka menawarkan jasa keliling kawasan kota tua, termasuk lima tempat bersejarah, dengan imbalan sebesar Rp 30.000. Dengan onthel, para penumpang tak perlu khawatir terjebak kemacetan. Para pengojek ini sudah hapal betul seluk beluk jalanan kawasan kota tua.

Mendadak saya ingin mencoba sepeda tua ini. Saya memilih sebuah onthel Valuas buatan India keluaran tahun 1950-an. Dan saya pun segera naik dan langsung berjalan-jalan mengelilingi kota tua.

Amir adalah ojek ojek onthel yang menjadi pemandu saya ketika itu. Tujuan pertama kami adalah Pelabuhan Sunda Kelapa. Pelan-pelan kami menelusuri pelabuhan besar ini, serta pelabuhan dan desa-desa di sekitarnya yang menjadi cikal bakal kota Jakarta. Hanya saja, kini Sunda Kelapa tak sebesar waktu dulu.

Kesibukan pelabuhan Sunda Kelapa tak pernah berhenti hingga matahari hampir tenggelam.
Kesibukan pelabuhan Sunda Kelapa tak pernah berhenti hingga matahari hampir tenggelam.

Perjalanan berikutnya kami arahkan ke menara Syahbandar dan Museum Bahari. Di sepanjang perjalanan, Amir tiada henti menceritakan rentetan sejarah Batavia. Cerita Amir melambungkan khayal dan imajinasi saya ke masa Batavia di bawah kekuasaan Perserikatan Perusahaan Hindia Timur milik Belanda, atau Vereenigde Oost indische Compagnie (VOC).

Ahh… Seakan saya hidup dimasa itu… membayangkan hiruk pikuknya aktivitas warga semasa pemerintahan colonial Belanda, dimana sepeda onthel menjadi primadona transportasi.

Ratusan orang memadati pelataran Fatahillah untuk menyaksikan acara Batavia Art Festival yang digelar dalam rangka menyambut Ulang Tahun Kota Jakarta.
Ratusan orang memadati pelataran Fatahillah untuk menyaksikan acara Batavia Art Festival yang digelar dalam rangka menyambut Ulang Tahun Kota Jakarta.

Selanjutnya perjalanan menuju jembatan kota Intan dan Toko Merah. Sama dengan perjalanan sebelumnya, dimana-mana kami melihat sisa-sisa bangunan tua peninggalan VOC. Gaya arsitektur bangunannya sangat kental dengan sentuhan Eropa.

Sesampainya di jembatan kota Intan, Amir bercerita tentang betapa sibuknya aktivitas perkapalan kala itu. Konon, kata Amir, katanya kualitas air tanah disini merupakan yang terbaik di sekitar kawasan kota tua. Kejernihan airnya tak diragukan lagi. Kilauan air di sini bagaikan kilau intan. Dan oleh karena itulah daerah ini diberi nama kota Intan.

Dari sini onthel kembali menuju museum Bahari. Karena sudah terlalu sore, museum sudah ditutup. Alhasil kami tak dapat masuk ke dalamnya.

Seorang pengunjung sedang melihat-lihat deretan sepeda onthel yang disewakan untuk berkeliling kawasan kota tua.
Seorang pengunjung sedang melihat-lihat deretan sepeda onthel yang disewakan untuk berkeliling kawasan kota tua.

Masih dengan sedikit kecewa, kami menuju tempat terakhir yaitu Toko Merah dan kembali menuju taman Fatahillah. Tapi, mengapa ia dinamai Toko Merah? Ternyata ini karena semua material dari bangunannya berwarna merah. Tak hanya dari luar, namun juga sampai ke dalam bangunannya.

Dahulu kala, bangunan ini merupakan toko yang menjual semua kebutuhan sehari-hari, mulai dari pakaian sampai rempah-rempah. Jika dibandingkan saat ini, mungkin analogi yang tepat adalah mal. Semuanya serba ada dan penjualnya pun dari berbagai kalangan dan ras, dari orang pribumi sampai orang China dan Arab.

Namun, kalau hendak melongok ke dalam toko ini, mungkin Anda akan sedikit kecewa. Sebab, bangunan toko ini telah beralih fungsi menjadi pub dan diskotik. Oleh pemerintah kota DKI Jakarta dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, pemilik bangunan ini tidak boleh mengubah keaslian dari tampilan luar bangunan Toko Merah ini.

Saya merasakan sebuah ironi. Disamping banyak bangunan tua yang hancur dan tak terurus, bangunan tua ini ternyata telah menjadi tempat hiburan belaka. Akankah serpihan sejarah kota Jakarta hilang bersama dengan kemajuan jaman? Kita semua tentu punya jawabannya. Mari lestarikan sejarah kota Batavia, cikal bakal kota Jakarta.

(23)

Santi Irawati Santi Irawati adalah lulusan Jurnalistik dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta. Ia menyenangi peliputan dan penulisan kuliner dan petualangan.

Comments with Facebook

Comment(8)

  1. Sangat disayangkan jika kekayaan sejarah kota Jakarta lekang oleh waktu dan peradaban. Saya setuju sekali dengan pengadaan festival di tempat-tempat yang mengandung nilai sejarah kota Jakarta. Tapi jangan hanya pada saat ulang tahun Jakarta saja. Seingat saya, beberapa bulan yang lalu, diadakan pameran buku di Museum Bank Mandiri. Dalam pikiran saya, hebat sekali mengadakan pameran di Museum dan saya sempat merasa senang menyusuri jalanan dari tempat saya turun dari bis Trans Jakarta sampai ke Museum Bank Mandiri tersebut. Ternyata banyak gedung- gedung bersejarah juga.

    Ya, semoga Pemerintah Daerah Kota Jakarta lebih tanggap lagi dalam melestarikan tempat-tempat bersejarah yang memiliki nilai tersendiri untuk diketahui oleh masyarakat kita ..

    Terimakasih Mbak Santi untuk sharingnya… Harusnya lebih banyak field trip untuk siswa ke tempat seperti ini… SEMANGAT!!

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Jakarta memang slalu ramaii….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Ada baiknya kita memberikan makna yang berarti bagi berdirinya sebuah gedung yang disebut mahakarya berdirinya ibukota negara. Dengan, menggelar pesta rakyat ataupun karnaval buat menghimpun para pecinta gedung tua, terutama sejarah bangsa. Maju terus Indonesia! Entah sampai kapan. Semoga anak cucu kita dapat merasakan betapa mewahnya sejarah gedung tua itu….
    Salam hangat dan memprihatinkan buat kota Jakarta.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Wajib dilestarikan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta (namanya sekarang), Museum Gajah dan Museum Bahari adalah ikon-ikon yang menemani saya tumbuh sampai umur yang sekarang. Ke Museum Fatahilllah kemarin dan ke Museum Gajah minggu lalu, saya masih ingat bagaimana almarhum ayah saya mengajak saya masuk melongok ke penjara air atau berfoto di depan patung perunggu gajah, pada usia saya yang enam tahun. Tentu sambil dicerecoki berbagai pertanyaan khas anak-anak, yang dijawab ayah saya dengan sabar. 30 tahun kemudian, saya membawa dua anak laki-laki kecil, 8 dan 3 tahun, ke obyek sejarah yang sama, museum yang sama, dan dengan pertanyaan-pertanyaan yang nyaris sama. Mata mereka terbelalak mendengar penjelasan saya. Saya jadi terharu. Betapa besar warisan sejarah yang dapat kita berikan pada generasi penerus kita. Sekaligus juga warisan semangat juang, agar mereka kelak tidak menjadi generasi malas, mudah patah semangat dan bermental lembek. “Ibu, jadi dulu, pahlawan kita ditangkap dan dipenjara sambil ditengelamkan di air, bu?! Hebat ya, mereka tak pernah menangis….” kata si sulung saya sok tahu. Ia berkata sambil manggut-manggut di depan penjara air Museum Fatahillah.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Saya mengagumi sejarah Kota Jakarta bila mengunjungi Museum Fatahillah. Meski belum pernah mengitari keseluruhan tempat-tempat dalam area museum, namun melalui artikel di website ini, saya merasakan kedekatan dengan Museum Fatahillah.
    From Makassar with Love

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  7. Jakarta memang selalu jadi ironi, ketika banyak bangunan-bangunan mewah berdiri, dipinggiran sana orang berteduh di lapak-lapak pinggir kali. Ketika bangunan tua menjadi sejarah, banyak semua orang tidak peduli. Memang jakarta sebuah ironi…

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *