Home Lancong Ketika Bohlam Bergemeretak di Kota Tua
4

Ketika Bohlam Bergemeretak di Kota Tua

9
4
Atraksi Kuda Lumping
Para pemain kuda lumping menyemburkan bahan bakar cair yang tersimpan didalam mulutnya ke sumbu yang bernyala api. Foto-foto: Siti Nurdina.

“Ctaaaaar! Ctaaaaaar!”

Cambuk berwarna merah dan kuning itu melecut memekakkan telinga. Tak tanggung-tanggung, kibasannya telak menghantam punggung para pemain Kuda Lumping. Ya, ini adalah kesenian asal Jawa Timur yang kerap dipertontonkan di kawasan Kota Tua, Jakarta.

Saban Sabtu dan Minggu, pertunjukkan ini digelar di pelataran depan Museum Fatahillah, Jakarta. Diiringi tabuhan gendang, kenong, dan gong, para pemain Kuda Lumping menari-nari sambil bermain dengan api. Permainan mereka memang tampak berbahaya. Minyak tanah di dalam kaleng berkali-kali mereka teguk untuk kemudian disemburkan ke sumbu bernyala api yang mereka pegang.

“Wuuuuuuuuuuuuussssshhhhh!”

Seketika lontaran warna merah menyala terpancar tinggi ke atas dari mulut para pemain.

Di setiap perkumpulan semacam ini, mereka biasanya memiliki minimal satu pawang untuk mengendalikan jalannya pertunjukan. Pawang itu biasanya berpakaian serba hitam dan bertugas melecutkan cambuk di sepanjang permainan. Di perkumpulan ini, pawangnya bernama Pak Amron.

Saat mereka beristirahat, saya berkesempatan berbincang sejenak dengan Pak Amron. Bapak delapan anak ini bercerita bahwa keahliannya menjadi pawang Kuda Lumping ini diperoleh secara turun temurun.

“Waktu itu Bapak hanya diberikan seperangkat alat musik, terus kata bapak, saya hanya disuruh mencari nafkah dengan semua ini, sekaligus nerusin ilmu keluarga” kata Pak Amron sambil duduk bersila.

Ketika saya tanya apakah ada ritual-ritual khusus ketika hendak mentas, si Bapak bilang tidak ada.

“Kalau ada panggilan, ya sudah, langsung main saja,” tuturnya.

Perkumpulan yang bermukim di daerah Bekasi, Jawa Barat, ini beranggotakan 15 orang, termasuk anak Pak Amron, Tole. Walaupun masih kecil, Tole tidak saja lihai menari, tetapi juga memiliki keahlian yang luar biasa dalam bermain api. Anak-anak yang bermain dalam perkumpulan Kuda Lumping, rata-rata dimulai dari umur 4 tahun.

Obrolan kami terputus karena Pak Amron harus meneruskan pertunjukan. Dan inilah saat yang ditunggu-tunggu. Atraksi memakan bohlam lampu.

Awalnya, punggung si pemain akan dicambuk oleh Pak Amron. Ketika lecutan terakhir, si pemain langsung jatuh terjerembab ke lantai, tidak sadarkan diri. Sesaat kemudian, pemain lain membantu mendirikan si pemain yang tadi jatuh. Saya tertegun melihat wajah si pemain. Tatapan matanya kosong, hampa.

Ketika sudah berdiri, gerak badannya kemudian seakan diatur oleh sang pawang. Dilengkapi kuda-kudaan dari anyaman bambu, sebelah kakinya dipasang gelang kerenceng yang bergemerincing saat ia menghentakan kakinya. Ketika lecutan cambuk menggelegar, si pemain langsung berlari dan berguling-guling dengan cepat diringi tabuhan gendang dan kenong yang semakin cepat. Seember air yang disediakan di lantai menjadi tempat si pemain untuk menceburkan kepalanya, seakan-akan ia adalah kuda betulan yang sedang kehausan.

Pemain kuda lumping menceburkan kepalanya kedalam ember berisi air berkali-kali.
Pemain kuda lumping menceburkan kepalanya ke dalam ember berisi air berkali-kali.

Tabuhan mendadak berhenti berbunyi. Sang pawang mendekati si pemain yang, tampaknya, masih berada di bawah kekuatan magis. Seorang pemain lain mendekat membawa baki berisi beberapa bohlam lampu. Sang pawang mengambil sebuah bohlam lampu dan menyodorkannya ke mulut si pemain tadi.

Tanpa ragu ia melahap bohlam kaca. Gemeretak bohlam lampu ketika digerus gigi si pemain terdengar miris di telinga saya. Setelah aksi memakan bohlam lampu, ia kembali menari dan bergulingan. Ketika sang pawang melecutkan cambuknya untuk kesekian kali, tubuh si pemain melemas dan ambruk kembali ke tanah. Ketika bangun, matanya kembali berisi, tidak kosong. Efek magis sepertinya telah hilang dari dirinya. Tabuhan musik berhenti dan para pemain kembali beristirahat.

Bapak Amron menyodorkan bohlam lampu ke pemain kuda lumping untuk dikunyah-kunyah.
Bapak Amron menyodorkan bohlam lampu ke pemain kuda lumping untuk dikunyah-kunyah.

Sore hampir habis, tapi langit masih menyisakan semburat oranye di antara awan yang mulai kelabu. Kumpulan orang mulai berpencar dan saya pun melangkahkan kaki dari pelataran Museum Fatahillah menuju kendaraan saya. Dalam hati saya berujar untuk kembali ke sini dan menangkap momen menarik lain dari Kuda Lumping, sebuah kesenian menarik dari Indonesia, negeri saya tercinta.

(9)

Siti Nurdina Penulis lepas di Jakarta.

Comments with Facebook

Comment(4)

  1. Menarik membaca artikel ini. Cuma sekedar ingin tahu, siapa yang membiayai pertunjukkan Pak Amron? Apakah pihak pengelola Museum Fatahillah atau para penonton secara sukarela….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Beras, sembako mahal.. Api dan bohlam kaca pun dimakan rakyat kita..

    “Tanpa ragu ia melahap bohlam kaca. Gemeretak bohlam lampu ketika digerus gigi si pemain terdengar miris di telinga saya”

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *