Home Lancong Aceh, Tanah Keajaiban
7

Aceh, Tanah Keajaiban

60
7
Pintu gerbang Mesjid Raya Baiturrahman yang berhiaskan ukiran kaligrafi yang unik dan menarik.
Pintu gerbang Mesjid Raya Baiturrahman yang berhiaskan ukiran kaligrafi yang unik dan menarik. Foto-foto: Barry Kusuma.

Masyarakatnya yang religius, letaknya yang berada di pesisir, pemandangan alamnya yang begitu menawan, serta perjalanan historisnya yang panjang, telah menjadikan Aceh sebagai daerah istimewa yang mempunyai keunikan tersendiri.

Karakter masyarakat Aceh cenderung keras dan pemberani – sebagaimana juga kebanyakan kaum pesisir. Itulah kesan pertama yang saya rasakan saat pertama menjejakkan kaki di bumi yang dikenal juga sebagai “Serambi Mekkah”. Namun kesan tersebut hilang dalam sesaat oleh keramahan dan ketulusan yang mereka tunjukkan ketika saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda di Ibu Kota Propinsi Banda Aceh; saat itu dengan tulus mereka menawarkan bantuan untuk membawa barang-barang saya di ruang tunggu bagasi pesawat.

Perjalanan menuju Aceh memang cukup melelahkan karena tidak ada penerbangan domestik yang memiliki rute langsung menuju kesana. Semua maskapai akan transit terlebih dahulu di Medan, Sumatra Utara, sebelum bertolak ke Aceh, sehingga untuk jarak tempuh Jakarta – Aceh harus memakan waktu antara empat sampai lima jam penerbangan.

Aceh terkenal sebagai “Serambi Mekah” karena sejarah menuliskan bahwa Agama Islam pertama kali masuk ke Indonesia melalui pertemuan penduduk asli dengan kaum Gujarat dari India, pedagang Arab dan Persia, di sepanjang pesisir pantai Aceh, dimana mereka melakukan perjalanan dagang menuju daerah Timur. Bumi Aceh saat itu menjadi tempat persinggahan bagi kaum pedagang untuk memperbaiki kapal mereka, sekaligus berdagang dengan penduduk setempat. Namun, Agama Islam baru berkembang pesat dan secara terang-terangan disebarkan oleh para Ulama – sebagian besar berasal dari Persia dan India – pada akhir abad kedua. Dan pada tahun 225 H diproklamirkanlah berdirinya Kerajaan Islam Perlak, yang merupakan Kerajaan Islam pertama dan terbesar di Asia Tenggara pada saat itu. Naik tahta sebagai raja pertamanya adalah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah. Aceh dikemudian hari dikenal sebagai kota dan pelabuhan niaga yang ramai.

Salah satu karya arsitektur kuno yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh adalah Mesjid Raya Baiturrahman yang terletak di pusat Kota Banda Aceh, tepat bersebelahan dengan Pasar Aceh. Mesjid Baiturrahman merupakan salah satu bangunan di Aceh yang tidak hancur saat bencana tsunami pada 26 Desember 2004 menghempas hampir 2/3 wilayah Aceh, meluluhlantakan hampir semua bangunan, dan memakan korban tak kurang dari 170,000 nyawa. Kendatipun sempat tergenang air hingga setinggi tiga meter, Baiturrahman tetap berdiri kokoh dan bahkan menjadi saksi atas nasib ribuan masyarakat Aceh yang berupaya menyelamatkan diri dan mengungsi ke pelataran Mesjid tersebut. Tak heran jika Baiturrahman menjadi kebanggaan dan ikon masyarakat Aceh.

Baiturrahman merupakan Mesjid Raya yang memiliki perjalanan historis yang panjang. Dibawah kolonialisme Belanda tahun 1873, Mesjid ini bahkan pernah dibakar. Dalam kemarahan bangsa Aceh, Belanda kembali membangun Mesjid tersebut pada tahun 1875. Baiturrahman memiliki lima kubah; kubah utama tampak menjulang tinggi dan berhias desain interior dan ukiran yang unik dan menarik. Hanya berjarak 20 meter dari batas gerbang utama Mesjid terdapat kolam air teratai – dan impresi saya meyakini bahwa Baiturrahman adalah salah satu Mesjid terindah yang dimiliki Indonesia.

Mesjid Raya Baiturrahman yang terletak di Ibu Kota Propinsi Banda Aceh menjadi salah satu ikon kebanggaan rakyat Aceh, sekaligus pula sebagai saksi sejarah perjalanan panjang bangsa Aceh.
Mesjid Raya Baiturrahman yang terletak di Ibu Kota Propinsi Banda Aceh menjadi salah satu ikon kebanggaan rakyat Aceh, sekaligus pula sebagai saksi sejarah perjalanan panjang bangsa Aceh.

Pemandangan yang saya saksikan dalam perjalanan dari Bandara menuju ke pusat kota Banda Aceh terasa begitu menyayat karena masih begitu banyak puing-puing bangunan yang terserak akibat bencana dasyat tsunami. Pada umumnya masyarakat Aceh bermatapencaharian sebagai nelayan dan petani, sehingga tidak aneh jika banyak dari mereka mendirikan rumah di sepanjang pesisir pantai dan kini semua itu hampir rata dengan tanah.

Pada hari pertama kedatangan saya di Aceh, begitu banyak tempat dan situs sejarah yang ingin saya kunjungi, namun hari sudah keburu senja dan saya harus segera mencari tempat penginapan. Di kota Banda Aceh ini, akomodasi dan tempat penginapan amat beragam, banyak diantaranya adalah hotel kelas melati dengan tarif kamar bervariasi dari Rp. 100.000 hingga Rp. 200.000. Sayangnya, kondisi kebanyakan hotel masih belum terurus dan berantakan sebagai dampak tsunami, sehingga tidak heran bila para pendatang dan turis memilih untuk mencari rumah penduduk yang dapat disewa. Tarifnya pun relatif murah: antara Rp. 35.000 hingga Rp. 50,000.

Selain keindahan Mesjid Raya Baiturrahman, kota Banda Aceh juga memiliki Museum Negeri yang letaknya tidak jauh dari Mesjid Raya – sekitar tiga kilometer dan dapat ditempuh hanya dalam beberapa menit berjalan kaki. Museum Negeri menyimpan aneka ragam karya sejarah penduduknya, mulai dari tulisan tentang budaya Aceh, tarian dan adat istiadat tradisional, ragam hias kerajinan serta ukiran khas Aceh. Di dalam kompleks Musium ini terlihat satu bangunan yang sangat mencolok, yaitu Rumoh Aceh; rumah adat Aceh yang berbentuk panggung dengan pintu sempit dan dibingkai ukiran kayu dengan motif Aceh yang unik dan indah. Rumah adat ini terlihat sangat terawat, sebagaimana juga Musium tempatnya berada.  Di dalam Musium, para pengunjung juga dapat menikmati aneka koleksi purbakala, diantaranya Lonceng CakraDonya. Lonceng ini adalah hadiah dari Laksamana Ceng Ho pada tahun 1414, dan sekali lagi ini menjadi bukti bahwa Aceh sejak dahulu merupakan kota dan pelabuhan yang sangat ramai dikunjungi oleh kaum pedagang yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Saya jadi teringat dengan nama Nanggroe Aceh Darussalam yang berarti Negeri Aceh yang damai dan makmur. Melimpahnya kekayaan alam dan hasil bumi Aceh membuat Belanda tertarik untuk berdagang dengan bangsa Aceh, dan sejalan dengan waktu, Belanda pun semakin berupaya untuk mencengkram bumi Aceh, memonopoli dan menguasai hasil bumi yang terdapat di Aceh. Namun sejarah menjadi bukti bahwa bangsa Aceh bukanlah kaum yang mudah ditaklukan; tentunya ini pula yang membedakan Aceh dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara ini.

Setelah puas berkeliling melihat sejarah dan kebudayaan Aceh, saya melanjutkan perjalanan ke tempat lain yang juga menjadi saksi lain peninggalan sejarah Aceh: Gunongan. Tempat ini pun luput dari bencana tsunami. Gunongan terletak di tengah kota dan berada di kawasan dataran tinggi. Bangunan Gunongan merupakan bukti peninggalan sejarah pada tahun 1600, yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda. Gunongan dikelilingi oleh taman yang asri. Bangunannya berbentuk seperti bukit dan pada satu masa, menjadi benteng yang kokoh. Awalnya saya tidak mengerti bangunan ini digunakan dan berfungsi sebagai apa karena bentuknya yang aneh yang membedakannya dengan bangunan-bangunan pada umumnya. Setelah saya pergi ke bangunan yang terletak di sebelah kanan Gunongan, yaitu Tempat Informasi Gunongan, barulah saya paham. Pada tahun 1608, Sultan Iskandar Muda mempunyai istri yang sangat ia sayangi, bernama Putri Phang. Sang Permaisuri sangat rindu pada kampung halamannya yang dikelilingi perbukitan, sementara istana tempatnya tinggal saat itu tidak banyak terdapat wilayah perbukitan. Akhirnya Sultan membangunkan untuknya sebuah gunung buatan yang menyerupai perbukitan di kampung halaman sang Permaisuri; di atas gunung buatan itu, Putri Phang dapat leluasa bermain dan melupakan kerinduannya pada kampung halamannya. Dari atas bukit Gunongan itulah Putri Phang biasa meluangkan waktu dan menikmati matahari tenggelam.

Tidak terasa hari sudah semakin sore. Saya pun mulai merasa lapar dan ingin mencicipi masakan tradisional Aceh. Di Jakarta, saya sering menikmati Mie Aceh; sekarang adalah saatnya saya mencicipi Mie Aceh yang asli, ditambah kepiting… hmm… perutpun terasa semakin keroncongan membayangkan nikmatnya makanan tersebut. Pusat jajanan dan masakan khas Aceh berada di Pasar yang terletak di tengah kota. Sebagaimana pasar pada umumnya, di siang hari pun tempat ini menjadi pusat perdagangan yang ramai, namun pada malam hari tempat ini berubah menjadi pusat makanan. Salah satu ciri khas masakan Aceh adalah bumbu rempah dengan rasa yang sediki pedas. Saya memilih menu makan yang khas: Mi Aceh, Martabak, Gulai Kambing dan Sayur Pliu. Semua menu ini sangat terkenal di Aceh dan rasanya pun tidak jauh berbeda dengan yang pernah saya cicipi di Jakarta, kecuali martabaknya, karena Martabak Aceh berbentuk seperti telur dadar yang dicampur dengan tepung terigu. Gulai kambingnya terasa sangat lezat; aroma rempah, rasa kuah yang sedikit pedas dan gurihnya daging kambing sangat terasa. Para pecinta gulai kambing sebaiknya tidak melewatkan menu yang satu ini jika suatu saat berkunjung ke Aceh.

Salah satu pantai yang saya tuju pada hari itu adalah Pantai Lhok Nga, yang terletak di tepi barat Aceh, atau sekitar 17 kilometer dari kota Banda Aceh. Lama berkendaraan menuju ke pantai itu sekitar 40 menit. Pantai Lhok Nga merupakan kawasan wisata favorit masyarakat Aceh. Setelah hampir lima tahun berlalu, musibah tsunami masih meninggalkan jejak di pantai itu, berupa puing-puing bangunan yang sedianya merupakan sarana dan prasarana pariwisata. Kendatipun demikian, kekaguman saya pada tempat ini tidak sedikitpun berubah saat melihat keelokan Pantai Lhok Nga, yang tampak begitu alami dan “perawan”. Hamparan pasir yang berbatasan dengan garis laut, tumbuhan hijau dan rindangnya pepohonan, serta perbukitan di sekeliling pantai ini menjadi latar belakang yang amat kontras. Para pengunjung di pantai ini dapat melakukan berbagai aktivitas, mulai dari memancing, berlayar, menyelam, atau hanya sekedar berjemur di atas pasir. Pantai Lhok Nga berada di sebuah teluk yang disisi kiri-kanannya banyak terlihat danau kecil. Penduduk lokal memanfaatkan danau-danau kecil itu untuk mencari nafkah. Keindahan danau-danau itu tentu saja menjadi daya tarik tersendiri.

Selain pantai dan danau, di kawasan ini juga terdapat sebuah lapangan golf, Seulawah International. Namun nampaknya lapangan golf yang berlatar belakang panorama laut dan bukit itu sudah lama tidak beroperasi. Sebagian meyakini bahwa salah satu penyebabnya adalah karena wilayah ini dahulu dikenal sebagai daerah rawan konflik saat gerilyawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah masih berseteru, sehingga tidak aneh jika banyak turis enggan datang ke daerah itu.

Pantai Lhok Nga di wilayah barat propinsi Aceh merupakan salah satu favorit masyarakat Aceh saat melepas kepenatan. Wilayah barat ini pun merupakan salah satu tempat yang mengalami kerusakan terparah saat badai tsunami menerjang bumi Aceh.
Pantai Lhok Nga di wilayah barat propinsi Aceh merupakan salah satu favorit masyarakat Aceh saat melepas kepenatan. Wilayah barat ini pun merupakan salah satu tempat yang mengalami kerusakan terparah saat badai tsunami menerjang bumi Aceh.

Kawasan pesisir barat Aceh ini termasuk yang rusak parah saat bencana tsunami datang; tidak hanya penginapan dan restoran, tetapi juga rumah-rumah penduduk hancur ketika bencana itu menimpa sebagian besar wilayah Aceh. Tidak jauh dari Pantai Lhok Nga, terdapat sebuah pabrik semen, Andalas. Pada saat saya kesana, pabrik itu sedang tidak beroperasi karena proses renovasi. Pabrik ini termasuk satu dari sekian banyak bangunan yang terkena dampak tsunami. Namun ada satu pemandangan yang cukup menakjubkan bagi saya: di sepanjang perjalanan, saya melihat begitu banyak bangunan yang habis rata dengan tanah, tetapi tidak demikian halnya dengan mesjid dan meunasah (tempat ibadah)  yang berada di samping rumah-rumah penduduk. Mesjid dan meunasah itu tetap kokoh berdiri seolah badai tsunami tidak pernah hadir di wilayah itu. Begitupun di daerah Pantai Lampuuk tempat dimana saya melihat sebuah mesjid tetap berdiri kokoh sekalipun bangunan di samping kiri-kanannya habis tersapu tsunami. Mungkin ini tanda kebesaran Tuhan, demikian saya membatin. Di sepanjang perjalanan, saya pun melihat hasil kerja berbagai lembaga bantuan lokal maupun asing yang telah banyak membantu pembangunan kembali rumah dan sekolah di wilayah itu.

Perjalanan hari itu pun saya akhiri karena hari telah senja dan tubuh pun perlu beristirahat untuk menempuh daerah tujuan lain keesokan harinya: Pulau Weh.

Waktu masih menujukkan pukul 07.00 WIB saat saya bersiap-siap menuju Pelabuhan Ulee Lhuee, tempat dimana saya berencana menggunakan kapal motor menuju ke Pulau Weh. Bagi mereka yang ingin mengunjungi Pulau Weh dengan membawa kendaraan mobil, Pelabuhan Malahayati tentu menjadi pilihan karena dari sana para pemilik kendaraan mobil dapat menaiki feri untuk menyeberang ke Pulau Weh. Biaya yang harus dibayar untuk sekali penyeberangan adalah Rp. 300.000 dengan jarak tempuh sekitar empat jam. Sementara dari Pelabuhan Ulee Lhuee, para penyeberang yang tidak membawa kendaraan mobil dapat menggunakan kapal motor cepat Pulo Rondo dengan tiket sekali penyeberangan seharga Rp. 50.000 dan waktu tempuh yang jauh lebih cepat: satu jam. Keputusan saya memilih naik kapal motor Pulo Rondo adalah karena waktu tempuh yang cepat; selain itu saya pun sudah menyewa sebuah mobil di Pulau Weh dengan tarif Rp. 400.000 per hari.

Sepanjang perjalanan dari pusat kota Banda Aceh menuju Pelabuhan Ulee Lhuee, sekali lagi mata saya dihadapkan pada pemandangan tentang betapa dasyatnya bencana tsunami meluluhlantakkan Aceh. Di kiri-kanan saya tampak rumah-rumah penduduk dan bangunan lain yang hancur. Kawasan di sekitar Pelabuhan Ulee Lhuee memang merupakan kawasan yang terparah tingkat kehancurannya saat tsunami menerjang karena lokasinya yang hanya berjarak lima kilometer dari pusat kota. Sekalipun proses renovasi sudah dilakukan oleh lembaga bantuan asing, namun kawasan ini tetap belum cukup ramai dipadati penduduk karena sebagian besar dari mereka masih trauma.

Saat menunggu keberangkatan kapal motor Pulo Rondo, saya menyempatkan diri berkeliling di sekitar Pantai Ulee Lhuee yang tampak begitu cantik. Di pantai itu, pada saat air sedang surut, beberapa karang akan nampak bermunculan dari batas permukaan air. Dari kejauhan, panorama bukit pun nampak asri. Dari kejauhan pula, saya melihat sebuah menara mercusuar yang tingginya kurang lebih 100 meter. Menara mercusuar itu pun tampak rusak akibat tsunami, demikian pula rumah-rumah penduduk di sekitarnya.

Hari itu cuaca lumayan cerah saat saya menginjakkan kaki di Pelabuhan Balohan yang terletak di Pulau Weh — Pulau yang dikenal sebagai “titik nol kilometer Indonesia”. Pulau Weh terdiri atas beberapa kepulauan kecil dengan Kotamadya Sabang sebagai Ibu Kotanya. Disinilah Pemerintah mendirikan sebuah monumen sebagai tanda dimulainya penghitungan jarak dan luas wilayah Negara Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Tempat pertama yang saya tuju adalah Monumen Nol Kilometer tersebut. Jarak tempuh dari Pelabuhan Balohan  adalah sekitar satu setengah jam, melalui jalanan mendaki yang lebar dan mulus di sepanjang Kota Sabang. Dari tiap kelokan jalan, saya dapat melihat bukit dan lautan berpadu dengan kontras. Berbeda dengan jalan aspal yang sebelumnya saya lewati, jalan masuk menuju Monumen Nol Kilometer sangatlah sempit sehingga hanya muat dilalui oleh satu kendaraan saja. Monumen itu sendiri terletak di atas sebuah bukit. Setelah membayar tiket seharga Rp. 2.000 per orang, saya melanjutkan perjalanan ke atas bukit. Tampak semak belukar di kiri-kanan badan jalan. Mobil yang saya tunggangi pun bergerak lamban karena kondisi jalan yang sempit. Ditengah perjalanan, kami dihadang oleh segerombolan kera. Rupanya kera-kera tersebut sudah terbiasa dengan kehadiran manusia. Banyak wisatawan yang menuju ke tempat ini sengaja menyediakan makanan bagi kera-kera tersebut. Sayang, saya tidak mengetahui itu sehingga saya tidak mempersiapkan makanan kecil buat mereka.

Akhirnya, tibalah saya di Monumen Nol Kilometer. Sepanjang mata memandang dari atas bukit itu, tampak hamparan luas samudera dan kepulauan, termasuk Pulau Sabang. Usai “menginjakkan kaki” di titik nol-nya Indonesia, saya bergegas turun menuju pantai yang tercantik di Pulau Sabang: Pantai Iboih dan Gapang. Disana hamparan lembut pasir putih terasa menyilaukan mata; perairan di pantai itu pun berhias dengan terumbu karang dan ikan laut aneka ragam, warna, dan rupa.

Kebanyakan turis mancanegara datang ke pantai ini untuk menyelam dan surfing. Di tempat inipun kita dapat menyewa perahu untuk berkeliling, hingga ke tengah laut. Sebagian perahu bahkan didesain secara khusus sehingga para penyewa perahu dapat menikmati keindahan alam bawah laut melalui kaca bening tebal yang terletak tepat didasar perahu. Tarif sewa untuk perahu itu seharga Rp. 80.000 per jam. Saya memilih satu perahu dan menikmati keindahan alam bawah laut: terumbu karang, ikan-ikan, dan aneka ragam hayati laut lainnya. Kebeningan air laut yang masih jauh dari polusi amat menunjang kemampuan mata saya menikmati keindahan alam hayati di Pulau Sabang. Dari bagian laut yang lebih dangkal, terlihat jelas semburat rumput laut dengan warna kehijauan berpadu padan dengan kemilau biru samudera. Konon, alam bawah laut di Pulau Sabang ini merupakan salah satu yang terindah di wilayah Indonesia. Sayang, keajaiban dunia pariwisata di tempat ini belum mampu merangsang minat para wisatawan mancanegara karena faktor keamanan dan lamanya pemberlakuan status darurat militer oleh Pemerintah Pusat saat konflik masih berkecamuk.

Dari ketinggian tebing-tebing yang mengitari Pulau Sabang, tampak keindahan panorama di sepanjang pesisir garis pantai.
Dari ketinggian tebing-tebing yang mengitari Pulau Sabang, tampak keindahan panorama di sepanjang pesisir garis pantai.

Terlepas dari minimnya angka wisatawan asing yang datang, fasilitas di Pantai Iboih ini terbilang lengkap. Di lokasi ini terdapat hotel, mulai dari yang mewah hingga yang sederhana. Rumah makan yang tersedia pun tampak bersih dengan sajian menu yang lengkap. Di tempat ini pun tidak sulit menemukan Mesjid. Dan salah satu yang menjadi keunikan dari Pulau Sabang ini adalah banyaknya mobil mewah – mulai dari BMW, Mercedes, dan sederet mobil-mobil produksi Eropa – yang dijual dengan harga “sangat murah” atau hanya sekitar separuh saja dari harga jual di Jakarta. Hal ini terjadi karena pemberlakukan kebijakan “kawasan bebas pajak” di wilayah ini. Tetapi jangan sekali-kali membawa mobil-mobil mewah itu keluar dari Pulau Sabang, karena akan menjadi subyek pajak barang mewah yang nominalnya mencapai 100 persen dari harga mobilnya sendiri.

Kendatipun Pulau Sabang termasuk wilayah yang terkena bencana tsunami, namun dampak kerusakan yang ditimbulkan tidaklah parah jika dibandingkan dengan belahan wilayah lain di Aceh. Hal ini dikarenakan adanya dua palung yang cukup dalam di sekitar Pulau Weh, sehingga hantaman ombak tsunami tertahan di kedua palung tersebut. Data resmi Pemda Sabang mencatat, 11 orang tewas dan ratusan bangunan tersapu ombak saat tsunami melanda Aceh.

Waktu pun berjalan, tanpa terasa senja telah menjelang. Jam menunjukkan hampir pukul 17.00 WIB ketika saya memutuskan kembali ke Pelabuhan Balohan, untuk menaiki kapal cepat Pulo Rondo dan bertolak pulang ke Banda Aceh. Setelah membeli tiket masuk kapal seharga yang sama saat saya akan berangkat ke Pulau Weh, saya pun bergegas menaiki Pulo Rondo. Dari atas kapal cepat, saya menatap lurus pulau-pulau yang nampak mengecil dari pandangan mata. Ingin rasanya saya tinggal lebih lama disana, menikmati keindahan alam Aceh dan Sabang. Hati kecil saya pun berharap, semoga perdamaian yang saat ini telah tercapai antara GAM dan Pemerintah Indonesia dapat langgeng sehingga keamanan di Aceh tetap terjaga. Hanya dengan cara inilah akan terbuka kesempatan bagi semua orang untuk menikmati keindahan panorama Aceh (lihat juga Pesona Wisata Serambi Mekah).

(60)

Barry Kusuma Barry Kusuma adalah fotografer profesional yang berfokus pada landscaper nature dan culture photography. Dari karya-karyanya itu, ia memperoleh berbagai penghargaan, Ketekunannya pada gambar-gambar alam dan budaya didasari pada pandangannya bahwa banyak kekayaan alam dan budaya di Indonesia yang belum banyak dikenal, bahkan oleh warga Indonesia sendiri. Karya-karyanya dapat disimak di www.barrykusuma.com.

Comments with Facebook

Comment(7)

  1. Indah banget pemandangannya. Aceh perlu meningkatkan lagi potensi wisatanya karena punya tempat-tempat objek wisata yang bagus.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  2. Rinduku akan tanah kelahiran terobati setelah baca artikel ini… Mau kasih tambahan dikit, seharusnya kalau waktu lebih banyak, penulis bisa meneruskan perjalnan dari lhoknga smpai ke gunung geurutee… Sepanjang jalan akan bertemu dengan view alam.. Subhanallah.. Cuma itu yang bisa terucap dari mulut dan hati ini.. Terakhir saya ke sana, jalanan sudah seperti jalan tol.. hanya jembatan aja yang masih dalam tahap perbaikan.. Mudah2an penulis bisa kembali ke sana..:)

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Aceh tuch…!! Harus sekali-kali go international… Perlihatkan budayanya donk… Jangan sampai di klaim malaysia lagi….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Terima kasih untuk setiap pujiannya, tapi alangkah baiknya jika ada kritikan buat kekurangan yg terlihat didalamnya….salam kenal dari aceh

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Saya putra Aceh yg sudah sangat lama menetap di jakarta, Saya mempunyai suatu cita cita kelak apabila Saya telah sukses, Saya sangatlah ingin kembali ke Aceh, insya Allah saya akan membangun Aceh dan Saya akan mencoba untuk dapat memimpin daerah tersebut. karena Saya merasa Aceh itu sesungguhnya daerah yg penuh dengan segala bentuk kekentalan kehidupan, seperti adat dan budaya, agama, sejarah, tragedi berdarah, keindahan alam, makanan yang beragam, kekayaaan alam, dan lain sebagainya yang Saya tidak pernah dapatkan di daerah-daerah lainnya. Tks, dan salam hormat Saya kepada Aceh. Tunggu saya 15 tahun kedepan.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  6. Impian terbesar saya selama ini ingin berwisata ke Aceh, menelusuri pegunungan dan pantai-pantainya. Saya pernah hampir bertugas di Aceh, tetapi pihak keluarga tidak mengizinkan. Soalnya jauh dari Makassar.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *