Home Eksklusif Pengembaraan Membuat Saya Seimbang
5

Pengembaraan Membuat Saya Seimbang

82
5
Alex Komang
Alex Komang. Foto-foto: Dokumentasi Alex Komang.

Nama Alex Komang sudah tidak asing lagi, terutama bagi para insan yang bergelut di dunia perfilman Indonesia. Berbeda jika nama yang disebut adalah Syafi’in Nuha; padahal pemilik kedua nama itu adalah satu orang: Alex Komang.

Lahir di Jepara, Jawa Tengah, 47 tahun yang lalu, Alex kecil tumbuh dalam lingkungan keluarga Islami yang kuat. Sang ayah dikenal sebagai kyai dan pada awalnya amat menentang keputusan Alex untuk terjun secara total ke dunia perfilman dan seni. Maklum, di Jepara, kesenian masih menjadi bahan perdebatan pada masa itu, bahkan kadang dianggap haram.

Nama Alex Komang sendiri ia ciptakan sebagai nama samaran dalam cerpen-cerpen yang ditulisnya. Ini terpaksa dilakukannya semata-mata agar tidak melukai perasaan ayahnya. Alex muda pun amat gemar menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku-buku sastra karya Shakespeare, Hamlet, dan Anton Chekov — yang kesemuanya itu ia dapatkan bukan dari perpustakaan sekolah, melainkan dari toko buku milik ayahnya.

Ditengah kebekuan sikap ayahnya, darah seni seolah tak terbendung dalam diri Alex. Ia pun memutuskan hijrah ke Jakarta segera setelah ia menamatkan program pendidikan SMA. Tiba di Jakarta, Alex mulai bergabung dengan para seniman yang gemar berkumpul di Gelanggang Olahraga Bulungan, Jakarta Selatan. Dari pertemanannya dengan para seniman ini, Alex pun mulai mengenal dunia teater. Pada tahun 1980, Alex bergabung dengan Teater Egg (kini bernama Teater Tetas) dan mementaskan Jerit Tangis Dimalam Buta.

Pergaulan Alex pun semakin luas dikalangan seniman teater dan peluangnya untuk berkiprah semakin besar saat dia bertemu dengan Teguh Karya dan memutuskan untuk brgabung di Teater Populer asuhan sang sutradara. Ia bahkan mulai memainkan peran-peran di film layar lebar arahan sang maestro, seperti Secangkir Kopi Pahit, Doea Tanda Mata, Ibunda, dan Pacar Ketinggalan Kereta.

Nama Alex Komang sendiri sudah mulai diperhitungkan dalam dunia perfilman Indonesia sejak ia berhasil mendapatkan Piala Citra dari perannya dalam Doea Tanda Mata pada tahun 1985, untuk kategori Pemain Utama Pria Terbaik. Namun, berbeda dengan sambutan hangat yang diterima Alex dari para insan film saat itu, sang ayah justru bersikap sebaliknya; terutama ketika tahu bahwa putranya tersebut telah berganti nama, bukan lagi Syafi’in Nuha. Alex bahkan tidak diajak bicara oleh sang ayah selama satu tahun. Di kota kecil seperti Jepara pun percakapan tak sedap dari para tetangga mulai terdengar; beberapa bahkan mencemooh nama panggung Alex tersebut. Pada akhirnya, sang ayah membela putranya; kepada para tetangga, si ayah beralasan, Alex Komang itu ucapan lidah Jawa untuk kata-kata “alaika komarun”, yang artinya “untukmu bulan itu”.

Alex Komang

Ada sebuah anekdot yang dialami Alex saat ia hendak mengambil uang dari rekening tabungannya di sebuah bank. Sang teller bingung karena ia amat mengenali raut wajah nasabahnya itu sebagai Alex Komang, namun nama yang tertera di buku tabungan sang nasabah adalah Syaiful Nuha. Alex memilih bersikap santai seraya meyakinkan sang teller bahwa dirinya bukanlah Alex Komang yang terkenal itu. Lain lagi kisahnya saat Alex pergi berbelanja batik di Pasar Klewer di Solo, Jawa Tengah. Saat itu beramai-ramai orang mengikutinya; salah seorang dari mereka bahkan mencoleknya dan bertanya, “Mas Iwan kapan datang kesini?” Dikira Iwan Fals, dengan santai Alex menjawab, “Ya, saya lagi main ke sini…..”

Kisah percintaan Alex dengan sang istri, Nory, terbilang unik. Perempuan asal Malaysia itu dinikahinya pada tahun 1998 tanpa melalui proses pacaran sama sekali: bertemu, langsung mengajak nikah, serta melangsungkan pernikahan hanya lewat telepon. Kini, ia dan Nory dikarunia seorang anak

Sebagai aktor yang sudah malang melintang di dunia perfilman, Alex memiliki harapan besar akan lahirnya sutradara-sutradara muda yang tangguh, yang mampu membangunkan kembali dunia perfilman Indonesia.  Ia pun angkat topi atas lahirnya beberapa film dari tangan para sineas muda; seperti Petualangan Sherina, Ada Apa Dengan Cinta, Pasir Berbisik, ataupun Jelangkung.

Alex sendiri sempat bermain dalam film yang disutradarai oleh sineas muda Nia Dinata, Ca Bau Kan – sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Remy Sylado bertajuk sama. Dalam film itu, Alex berperan sebagai orang pergerakan di zaman Hindia Belanda bernama Soetardjo Rahardjo, sebuah peran yang hampir serupa dengan lakonnya dalam Doea Tanda Mata.

Berikut ini adalah petikan wawancara Alex dengan TM. Dhani Iqbal dari wisataloka.com,

Apa saja kesibukan Anda belakangan ini?
Kesibukan saya yang utama belakangan ini menyiapkan GLADIACTOR, yaitu program pelatihan akting di Teater Populer bersama Slamet Rahardjo dan Dewi Matindas. Kami berharap akan lahir aktor-aktor penuh bakat yang selama ini tersembunyi. Kami menyiapkan kelas pengantar sampai pendalaman seni laku agar calon-calon aktor ini memiliki kesiapan yang diperlukan sebagai aktor sesungguhnya.

Kesibukan saya yang lain, yang juga penting untuk hidup saya, adalah menyelesaikan sekolah “pengajian” saya di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Anda ikut berpartisipasi dalam film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji yang pada bulan Mei lalu diluncurkan , apa kesan yang Anda dapat?
Tokoh besar Melayu ini sangat inspiratif. Tidak bisa hanya berhenti sebagai sebuah catatan saja. Film Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji saya anggap sebagai salah satu sekuel saja dari kebesaran tokoh Raja Ali Haji. Perlu dipikirkan untuk mengangkat hal-hal yang lebih mendalam seperti pemikiran-pemikirannya dalam “Gurindam 12”; termasuk yang melatarbelakangi lahirnya karya itu. Di tiap bait dalam pesannya di “Gurindam 12” ini, ada hidup yang sedang terjadi. Kalau kita angkat tafsir-tafsir ini, saya percaya kebesaran sang tokoh akan menginspirasi generasi kita sekarang.

Dari seluruh film atau teater yang pernah Anda mainkan, adakah diantaranya yang membuat Anda masih terkesan hingga saat ini?
Film Doea Tanda Mata mungkin merupakan kerja kreatif saya, jika itu yang Anda maksudkan. Film ini seperti terus hidup dalam kepala saya. Banyak kritik yang saya ajukan pada diri sendiri atas hasil kerja saya ini. Selalu muncul perasaan, “andai saya begini dan bukan begitu, pasti akan lebih baik”, dan seterusnya dan seterusnya. Tapi ya sudah. Biar hal itu tetap hidup dalam kepala saya saja. Meminjam ungkapan Pramudya Ananta Toer, karya itu anak spiritual. Biar dia sendiri yang bertanggung jawab atas dirinya.

Anda dikenal suka membaca, buku apa yang Anda baca terakhir dan seberapa besar buku itu menginspirasi hidup Anda?
Saya sedang membaca buku-bukunya Jeffry Lang. Saya sangat terpesona dengan pikiran-pikiran tokoh ini. Penuh ketulusan. Ketulusan seorang Sufi. Karyanya sangat membantu saya membuka cakrawala kehidupan keimanan saya.

Bagaimana Anda mengisi waktu luang jika tidak ada agenda berkesenian? Apakah melaksanakan hobi?
Saya bermain dengan anak saya. Moment bermain bersama anak ini menjadi bagian penting dalam menjalani hari-hari saya. Kebutuhan untuk menengok ke belakang dalam sebuah pengembaraan menjadikan saya bisa tetap menjaga keseimbangan. Di sana saya bisa menjadi saya dahulu waktu bersama ayah saya. Bisa membagi kepada anak saya hal-hal yang pernah diberikan oleh orangtua kepada saya.

Saya sendiri tidak mempunyai hobi yang khusus. Paling-paling kalau bisa disebut hobi ya ngobrol bersama teman sambil menikmati kopi hangat. Biasanya setelah melakukan “ritual” ini, saya merasa segar kembali. Saya sendiri tidak terikat dalam satu komunitas penggemar hobi tertentu…kecuali, tentunya, komunitas kesenian.

Setiap orang adakalanya dilanda stress akibat kepenatan beban kerja. Apakah Anda memiliki cara tertentu untuk refreshing?
Intinya, saya melakukan hal-hal yang bisa memecahkan rutinitas. Melakukan perjalanan ke luar kota menjadi jalan keluar yang terbaik.

Dengan siapa Anda biasa meluangkan waktu liburan?
Dengan keluarga tentunya…

Apakah Anda menggemari aktivitas outdoor; seperti memancing dan arung jeram, atau sesuatu yang lebih ekstrem, seperti paralayang?
Tidak. Saya tidak menyukai hal-hal yang ekstrem. Saya lebih suka mengunjungi daerah-daerah tertentu. Tapi bukan ke lokasi-lokasi yang dipersiapkan sebagai tempat wisata dalam pengertian yang umum.

Apa makanan favorit Anda?
Makanan favorit saya adalah ikan.

Dimana saja lokasi wisata di Indonesia yang menjadi favorit Anda?
Bali. Tapi bukan karena pantainya. Juga Danau Toba di Prapat (Sumatra Utara). Saya menyukai masyarakatnya; seperti juga di tempat-tempat lain, saya cenderung punya keinginan masuk ke dalam kehidupan masyarakat setempat dalam menjalani kehidupan sehari-harinya, seperti masuk ke pasarnya, minum kopi di warung-warungnya sambil berinteraksi dengan masyarakatnya. Di setiap daerah saya akan menjumpai keunikannya sendiri-sendiri, dan ini yang memperkaya batin saya.

Adakah tempat wisata yang belum dan sangat ingin Anda kunjungi?
Saya ingin ke Makasar dan Toraja suatu kali nanti. Saya membayangkan eksotisme dari peninggalan-peninggalan leluhurnya.

Anda pastinya sudah bersentuhan langsung dengan banyak kebudayaan di Indonesia. Menurut Anda, adakah kebudayaan yang belum dikelola secara maksimal sebagai kekuatan pariwisata atau ekonomi kreatif Indonesia? Jika ada, apa kendalanya?
Justru menurut saya, wisata budaya ini yang sama sekali belum disentuh. Padahal menurut saya, kekuatan pariwisata ada pada kebudayaan masyarakatnya. Saya menilai bahwa selama ini pengelolaan dari pihak Pemerintah untuk masalah ini terjadi “salah tafsir”, terutama dalam memaknai pariwisata budaya. Menjual pariwisata seibarat menjual barang-barang kelontong; seperti yang dilakukan pedagang kaki lima. Memakai kalkulasi seorang pedagang; bukan kalkulasi seorang enterpreneur.

Satu hal yang paling sederhana, tetapi tidak pernah dipersiapkan dalam pengelolaan pariwisata kita adalah pembangunan infrastukturnya. Kemudahan untuk bisa mencapai tujuan wisata tidak pernah disiapkan. Seperti jalan-jalan, dsb. Artinya, kendala utama dari dunia pariwisata kita adalah masalah buruknya pengelolaan.

Ada contoh yang cukup menarik yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Malaysia. Mudah-mudahan cukup relevan untuk saya sampaikan di sini. Ketika mereka berniat membangun arena balap Formula 1 Sepang; itu dinilai sebagai sebuah ambisi besar mengingat besarnya nilai investasi yang harus ditanggung mereka; apakah hasilnya akan sepadan dengan investasi yang sudah ditanamkan. Nyatanya, arena balap itu sekarang sudah hadir di sana dan menjadi kebanggaan masyarakat di sana. Tentunya ini menguntungkan untuk dunia pariwisata negeri itu. Orang-orang di seluruh dunia segera tahu bahwa ada sirkuit F1 di Malaysia, yang para juara dunianya juga berlaga di sana.

Alex Komang
Alex Komang.

Yang saya tangkap, DR. Mahathir Mohamad ngotot membangun sirkuit Sepang dengan keyakinan bahwa setelah sang juara dunia saat itu, Schumacher, bisa berlaga di sana, niscaya seluruh dunia akan tahu bahwa ada sebuah negara bernama Malaysia. Dia percaya orang-orang akan berdatangan ke sana untuk berbagai alasan. Berkunjung sebagai wisatawan untuk melihat F1, sekaligus bisa mengenal bangsa itu lewat masyarakatnya. Dengan pencapaian itu, sangat dimungkinkan Malaysia juga bisa menjual minyak, kelapa sawit dan produk-produk yang lain. Dan kenyataannya, sekarang wisatawan yang berkunjung ke Malaysia terus meningkat dari segi jumlah.

Biodata singkat Alex Komang :

Nama: Syafi’in Nuha
Lahir: Jepara, Jawa Tengah, 17 September 1961

Pendidikan :
SD 2 Pecangaan, Jepara (1973)
SMP Wali Songo Pecangaan, Jepara (1976)
SMA Wali Songo Pecangaan, Jepara (1979)

Profesi : Aktor, Penulis Skenario

Filmografi :
Secangkir Kopi Pahit (1984), Doea Tanda Mata (1985), Ibunda (1986), Pacar Ketinggalan Kereta (1988), Ca Bau Kan (2002), A Long Road To Heaven (2006), Laskar Pelangi (2008), Romeo dan Juliet (2009), Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji (2009)

Sinetron :
Kesaksian (1994), Indonesia Berbisik (1995), Tirai Sutra (1996), Perkawinan Siti Zubaedah (1997), Bila Esok Tiba (1997), Bingkisan Untuk Presiden (2000), Cinta Terhalang Tembok (2002).

Penghargaan:
Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 1985 sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Film Doea Tanda Mata

(82)

TM. Dhani Iqbal TM. Dhani Iqbal lahir di Medan, Sumatera Utara. Menulis sejumlah esai, feature, dan cerpen di sejumlah media massa, juga beberapa buku: "Sabda Dari Persemayaman" (novel), "Matinya Rating Televisi - Ilusi Sebuah Netralitas", dan "Prahara Metodis". Melewati karir jurnalistik di beberapa media massa berklaim nasional, baik cetak, televisi, dan online, di Jakarta, dengan konsentrasi sosial, politik, dan kultur. Kini berjibaku di media LenteraTimur.com.

Comments with Facebook

Comment(5)

  1. saya sangat kagum dengan acting dari om Alex Komang. totalitasnya tidak perlu diragukan lagi, dan saya ingin sekali bertemu dengan beliau. untuk belajar lebih banyak lagi tentang dunia perfilman.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: +1 (from 1 vote)
  2. Thanks buat kang Iqbal yang sudah menulis tentang bang Alex Komang yang saya kagumi. Bravo kang Iqbal….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  3. Saya dari dulu kagum sama Alex Komang. Laki-laki banget karakternya….

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  4. Buat bang Alex. Orang ini benar-benar hebat& rendah hati, dari dulu saya mengaguminya. Selamat berjuang membangun perfilman Indonesia yang artinya membangun peradaban masyarakat Indonesia.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)
  5. Dengan senang kami warga Makassar menyambut keinginan Bung Alex eh bung Nuha bila ingin berkunjung ke Makassar atau ke Toraja. Bila ke Makassar, jangan lupa mampir di Warung Kopi yang bertebaran di seantero Makassar. Disitu banyak komunitas berinteraksi, seperti di Warkop Phoenam, Kopizone, warkop dg Sija, cafe blogger, cafe balls, dan puluhan lainnya.

    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0.0/5 (0 votes cast)
    VA:F [1.9.22_1171]
    Rating: 0 (from 0 votes)

LEAVE YOUR COMMENT

Your email address will not be published. Required fields are marked *